Sabtu, 23 November 2013

beda



Aku sering menyebutnya “beda”. Aku sering menjelaskanya “tak sama”. Beda dan tak sama, itu aku dan kamu. Tak sama dan beda, itulah kita. Jika memang berbeda kenapa menjadi kita? Bukankah aku dan kamu menyatu menjadi kita  karena ada kesamaan? Lalu? Kenapa?. Aku yakin kamu juga sering bertanya dalam hati mu, aku juga sering bertanya dalam hati ku. Mungkin ini yang menjadi kita. Sama-sama bertanya dalam hati kita. Aneh 

Apa yang sering kamu tanyakan pada Tuhan mu, apa iya sama, dengan apa yang sering aku tanyakan pada Tuhan ku?. Kamu bertanya apa? Kamu bertanya kenapa ada berbedaan?, aku juga bertanya seperti itu. Kamu bertanya kenapa dipertemukan dengan ku?, sama aku juga menanyakan itu. Kamu bertanya dengan cara apa agar berbedaan ku dan berbedaan mu bisa disatukan?, aku juga. Lalu, kamu sudah mendapatkan jawaban?, aku juga belum mendapat jawaban dari Tuhan ku. Atau mungkin kita harus bertanya pada Tuhan yang sama?, tapi semua orang tahu bahwa Tuhan kita beda. Jujur aku sendiri tak yakin jika Tuhan kita berbeda. Kita sama-sama manusia yang lengkap dengan segala acecoris yang menempel dalam hidup kita, kita sama, kita manusia, memiliki mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, tubuh, dan hati. Bukankah berarti pencipta kita juga ada satu? Tuhan maksud ku. Cobalah berfikir sejenak untuk hal ini. Benarkan? Tuhan itu Cuma ada satu, jalan kita yang tidak hanya satu. Lagi-lagi kenapa harus ada jalan yang berbeda. Beda..beda..beda..

Apa kamu lelah? Aku juga. Tapi anugrah ini yang membuat ku kuat. Kita sudah terlalu jauh berjalan, tapi juga tak menemukan ujung jalan ini, ah jangankan menemukan melihatnya pun aku belum. Diujung yang mana kita bisa menjadi satu?. Diujung kiri? Atau diujung kanan? Jika ujungnya dikiri maukah kamu melompat kesini? Aku yakin itu membutuhkan tenaga yang ekstra. Dan jika ujungnya dikanan? Aku sendiri tak yakin apa aku bisa melompati tembok tinggi itu. Kenapa tak kita robohkan saja tembok itu? Aku ingin merobohkanya, apa kamu tau caranya? Tapi tembok itu terlalu kuat, terlalu tinggi, aku pesimis jika kita hanya berdua saja akan bisa merobohkanya, tapi hanya kita berdua yang membutuhkan itu. Aku juga tak mau memaksa menarik mu berada dijalan ku, aku takut tangan mu sakit dan terluka. Kamu juga tak bisa menarik ku ke jalan mu, karena aku juga tak mau sedih dan menangis. Apakah yang menyangkut kepercayaan bisa terselesaikan dengan pemikiran. Imposible

Coba kita bertanya pada Tuhan yang sama




kamu, pelengkap kita



Masih dicerita yang sama, dan masih dikesempatan yang sama. Kesempatan tidak datang untuk kesekian kali. Bukan hanya dua atau tiga bahkan empat. Entahlah. Bukan aku menyerah, sampai saat ini, saat hanya jarak yang begitu nyata yang bisa aku lihat. Aku masih menunggu mu. Aku masih menanti mu. Untuk kembali menjadi kita. Meski sampai dengan jarak yang tak bisa ku lihat lagi, aku tak tahu apa kamu juga seperti ku. Menunggu ku. Menanti ku. Untuk menjadi kita lagi

Meski semua sudah terlihat dan terlalu mudah untuk dibaca, tanpa ada kata, aku tau apa yang terjadi bahkan apa yang kamu rasa meski kamu terlalu sungkan untuk mengatakanya. Aku hanya bisa menerima. Menerima semua kenyataan yang tak bisa ku hindari. Kenyataan yang menyakitkan tapi yang sekaligus menjadikan kuat. Benarkan bukan aku yang kuat, tapi kamu yang menjadikan ku kuat. Kamu yang hebat, dan terhebat 

Tanpa aku katakan bahwa ini berat untuk ku, aku tau kamu pasti mengerti. Siapa perempuan yang ingin kisahnya seperti ini, tak ada. Aku juga. Tak mau. Tapi sekali lagi, aku hanya bisa menerima. Menerima keputusan mu. Bukan aku tak punya pendirian, aku hanya ingin tau sebagai seorang laki-laki kamu akan bersikap apa. Bukankah seorang laki-laki pada akhirnya harus menjadi pemimpin dalam keluarganya? Dan harus memiliki sikap sebagai seorang pemimpin yang bertanggungjawab, aku hanya ingin melihatnya dari mu, meski itu terlalu jauh, tapi bukankah hidup kita pastinya akan melangkah kedepan. Atau mungkin kebelakang?. Dan cukup aku tau. Aku tak bisa marah, kamu sadar itu, aku hanya kembali lagi bersabar. Jika ini keputusan mu, ingin mu, dan mau mu, aku menghargai mu. Jika kamu ingin diam aku juga akan diam. Aku mengikuti mu. Sebagai perempuan.

Aku tak ingin ini, percayalah aku tak ingin ini. Tak ingin seperti ini. Tak ingin berdiam seperti ini, tak ingin tak ada kabar seperti ini. Tak ingin tak ada perjumpaan seperti ini. Aku tak ingin ini, tak ingin tak ada untuk mu saat banyak hal yang harus kamu lewati, aku ingin ada bersama mu, melewati banyak hal bersama mu. Aku tak ingin, tak ingin melewati banyak hal yang kamu harus lewati sendiri, meski aku yakin kamu bisa, meski aku juga harus tau bahwa kamu tak inginkan aku, aku ingin saat ini ada untuk mu. Begitu juga dengan ku, entah kamu menginnginkanya atau tidak aku ingin kita. Untuk saat terbesar ku, aku ingin melewatkanya bersama mu, membagikanya dengan mu. Untuk saat terberat ku, aku butuh  suara mu sebagai semangat ku, aku perlu tatapan mu yang menenangkan ku, tangan mu yang menggenggam ku, peluk mu yang menghangatkan ku, juga butuh kaki ku untuk aku menyadari bahwa aku tak sendiri untuk melewati ini. Tapi jika yang aku inginkan tak bisa aku dapatkan, biarkan aku meminjam bayangan mu untuk memotivasi ku bahwa aku juga bisa melewati proses ku, dan berterimakasih pada mu, karena meminjamkanku sosok mu yang telah membuat ku berhasil meraih impian ku

Jika kamu ingin satu jangan ambil dua, karena ganjil menglengkapi dan genap adalah bencana. Seperti kamu, aku juga. Lelah untuk membahas ini. Bukan aku tak mengerti, percayalah aku sangat mengerti. Bukan aku juga tak paham, aku sangat paham, jika kamu berkata itu hanya teman. Hanya saja, aku punya alasan kenapa aku tak pernah bisa mengerti dengan apa yang kamu ucapkan, karena ternyata semua berbeda dengan apa yang kamu perlihatkan. Aku tak menyalahkan mu, karena aku yang salah. Salah karena tak bisa mengerti. Salah karena ternyata aku hanya membuat mu lelah. Salah karena ternyata aku pada akhirnya hanya membuat mu kesal.

            Maaf. Aku kira kehadiran ku bisa membuat mu sedikit bernafas  meski banyak tanggungjawab yang membuat mu sesak. Aku kira tawa ku bisa menghibur mu saat kamu sedih. Aku kira bahu ku bisa membantu mu meringankan kelelahan mu. Aku kira peluk ku bias menghangatkan mu, saat kamu menggigil karena rutinitas mu yang padat. Aku kira telingga ku bisa menjadi pendengar yang baik untuk sekedar mendengarkan keluh dan warna hari mu. Aku kira mulut ku bisa menguatkan mu untuk segala masalah yang membuat mu resah. Aku kira mata ku bisa menyalurkan semangat untuk mu saat kekhawatiran menginginkan mu jatuh.  Aku kira genggaman tangan ku bisa sekedar mengingatkan mu bahwa aku ada disini. Aku kira kedua kaki ku juga membuat mengerti bahwa kamu tak pernah sendiri . dan aku kira rasa ku bisa membuat mu yakin bahwa aku tak pernah ingin mengakhiri ini semua. Maaf, karena aku hanya memakai pemikiran ku, tanpa bertanya. Tapi lebih dari yang kamu tulis aku tau seperti apa arti hadir ku untuk mu

Tak mudah, tapi mungkin juga tak sulit, yang biasa merubah ku menjadi kebiasaan. Walau orang hanya melihatnya seperti hal biasa, tapi aku mengartikanya menjadi luar biasa. Pertemuan kita yang terkalahkan oleh mereka yang berjarak. Komunikasi kita yang terkalahkan oleh mereka yang terpisah. Aku dengar banyak orang yang bilang bahwa ini tak baik. Tapi aku bisa, meski sulit. Tapi aku baik-baik saja, meski harus menahan rasa rindu. Dan kamulah yang membuat ku bertahan, dan keyakinan ku akan kamulah yang membuat ku dengan baik melewati ini, meski banyak orang diluar sana yang meragukan, bahkan meramalkan akan berakhir seperti apa kisah kita. Dan disaat seperti itu, saat banyak kata yang menyakitkan untuk aku dengar, saat banyak kata yang ingin aku keluarkan untuk membuat mereka paham, aku hanya bisa diam. Diam. Dan dalam hati aku berdoa, andai kamu ada disini, bersama ku, pasti mereka yakin bahwa ini semua bukan permainan.

Meski aku hanya ingin kita, aku tak bias memaksanya. Aku terlalu ikhlas untuk semua kepergiaan yang harus aku relakan. Bukan aku tak berusaha menahannya, tapi aku hanya manusia yang sama seperti mu, yang hanya berperan tanpa harus memilih peran. Bukan aku yang memebuat ceritanya seperti ini, namun aku sadar jika semua telah menjadi seperti ini. Jika aku diberi satu kesempatan, aku hanya ingin memiliki kesempatan selalu ada untuk mu, hanya itu. Seperti saat ini saat aku tak memiliki kesempatan itu, saat aku tak bisa ada untuk mu, aku hanya diberikan kesempatan untuk selalu membawa nama mu dalam daftar permohonan ku. Dan aku hanya memohon, untuk Tuhan selalu ada untuk mu, meski aku tak ada. Jika waktu juga memberikan pilihan, untuk ku bisa kembali bersama mu atau untuk ku bisa selalu ada untuk mu, aku memilih itu. Meski tak ada kita yang aku inginkan. Aku hanya mau itu. Selalu ada untuk mu. Entah saat kamu membutuhkan ku atau tidak. Hanya itu

Untuk mu yang membawa kunci hati ku, aku tau aku tak bisa memohon mu untuk terus-menerus memeberi ku kesempatan, karena itu hanya akan mengganggumu, menambah beban mu. Aku harus mengerti dan aku harus berusaha mengerti untuk tak terus menerus merengengek-rengek meminta mu  kembali bersama ku, melewati waktu dengan impian dan cita-cita kita. Meski aku ingin itu. Tapi aku yakin Tuhan lebih menginginkan kita untuk bersama lagi menjadi kita, saat aku dan kamu bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Saat aku dan kamu lebih bisa menerima dengan ikhlas berjalan bersama waktu. Dan aku percaya saat Tuhan memberikan rasa ini untuk ku, dan saat aku yakin dengan rasa ku, aku harus yakin menantang diri ku, untuk apa yang bernama waktu, untuk apa yang bernama jarak, dan untuk apa yang bernama kesempatan aku bisa menunjukanya. Termasuk rasa aku bisa mengorbankanya. Karena sekali lagi percayalah keyakinan ku lebih besar dari itu semua. Bahwa ada saatNya, ada hariNya, ada waktuNya, ada tempatNya aku dan kamu bisa selamanya menjadi kita

Aku memilih satu, yaitu kamu sebagai pelengkap ku untuk menjadi kita

Kamis, 10 Oktober 2013

Distance

Jarak. Hanya lima huruf, satu kata  tapi bermakna bepuluh-puluh kata. Jarak, ya hanya jarak, yang hanya akan menjadi jarak,  tapi tak hanya terdapat satu rasa melainkan terdapat berjuta rasa didalamnya. Jarak hanyalah sebuah jarak, dan jarak hanya akan tetap menjadi jarak, selamanya- jika aku dan kamu tak mengubah jarak, atau menjaga jarak. Jarak memang bisa membuat yang dekat menjadi jauh dan sebaliknya yang jauh menjadi dekat. Tapi aku memilih yang jauh menjadi dekat, bukankah kamu juga seperti aku?

Semua akan tetap sama. Pagi ku dengan suara serak mu, siang ku dengan perhatian mu, dan malam ku dengan ucapan “selamat bertemu dimimpi sayang ku”. Tak ada yang berbeda, tak ada. Hanya aku harus kuat untuk terus membayangkan wajah kacau mu dipagi hari, harus menahan sosok mu yang mengkhawatirkan ku akan pola makan ku dalam benak ku, dan aku tak pernah ingin bangun ketika aku bisa melihat mu meski hanya dalam mimpi. Aku yakin aku bisa. Kita telah melewati ini, jurang ini, tidak mudah. Tapi kita bisa sayang. Dan aku yakin kita juga bisa melewati jarak ini. Iya aku yakin. Waktu telah menjadi saksi kisah panjang kita, dan sekali lagi waktu yang akan melihat perjuangan kita.

Aku hanya perlu waktu. Perlu berteman dengan waktu, meski aku tak ingin. Aku hanya perlu waktu. Perlu bersahabat dengan waktu agar aku terbiasa. Seharian bersama mu, meski hanya sekedar duduk berdua, bergelayut manja, atau pergi untuk sekedar berkeliling kota menikmati malam yang dingin, tapi begitu terasa  sangat menghangatkan untuk ku karena bisa memeluk  tubuh mu.  aku perlu waktu untuk membiasakan sehari ku tanpa tangan kuat mu, senyum konyol mu, dan nyamanya bahu mu. aku perlu waktu untuk tak mengaharpkan mu tiba-tiba datang didepan pintu memebawa coklat atau ice cream saat kamu mulai membuat ku marah atau kesal. Tapi saat ini, jika kamu membuat ku  marah karena tak ada pesan mu, aku tak ingin itu, coklat atau ice cream bahkan kado yang tiba-tiba ada dikamar ku sebagai permintaan maaf mu,  aku hanya ingin kamu. kamu . tapi aku sadar apa yang aku inginkan tak selalu aku dapatkan. Termasuk jarak. Aku tak menginginkan seperti ini. Tapi aku tak kuasa

Aku mencoba mengikhlaskan ini semua. Aku tak mungkin egois dengan menahan mu untuk selalu berada disisi ku, aku juga mau yang terbaik untuk mu, masa depan mu yang mungkin juga akan menjadi masa depan kita.. aku hanya memohon, jangan buat aku khawatir, jangan buat ku cemas karena tak ada kabar dari mu, aku hanya bisa berharap kamu selalu baik, dari benda yang tak bergerak ini, tapi begitu sangat menggetarkan ku. Aku ingin terlelap dalam mimpi ku bersama mu, bukan terbangun karena tiba-tiba dada ku terasa sesak karena mengkhawatirkanmu, atau terlelap karena tangis kerinduan yang tak bisa aku bendung. Ya mungkin ini cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Aku dan kamu. 

Jaga hati mu, jaga diri mu, jaga percaya ku dan jaga cinta ku. Dan aku tak akan pernah lelah untuk membawa nama mu, agar Tuhan yang selalu ada dimana-mana menjaga dan menyertai mu. aku akan berusaha kuat untuk itu, untuk menahan rasa rindu ku. Aku bisa, pasti. Bisa untuk waktu ini  memeluk diri ku sendiri. Meski entah sampai kapan tapi aku selalu percaya, waktu itu akan mempertemukan kita, menyatukan kita dalam peluk mu dan peluk ku. Aku yakin aku bisa. Aku yakin kamu bisa. Karena aku perempuan kuat dan kamu adalah laki-laki hebat

#aku yakin kamu bisa menjalaninya, karena jarak selamanya hanya akan menjadi jarak. Terimakasih untuk proses mu, aku boleh meminjamnya untuk aku mengerti bahwa Tuhan begitu mencintai anak-anakNya dengan caraNya yang berbeda.

Selamat bertambah dewasa dalam segala hal, senantiasa jadi yang terbaik, aku tak pernah bisa melihat mata sembab mu, aku hanya ingin melihat senyum termanis mu.
Untuk mu perempuan sekaligus kakak terhebat ku,
MARGARETHA EVA KURNIA DEWI

Jumat, 06 September 2013

entahlah



Entah harus meminta Tuhan menyadarkan ku, atau menguatkan ku. Akupun tak tau. Dan aku juga tak tau harus berapa ribu kali lagi aku membawa namamu dalam percakapan ku. Andai aku bisa memilih, aku tak ingin memilih peran dan cerita ini. Namun bukankah sebagai manusia biasa aku hanya bisa menerima? Bukan memilih. Bukan aku yang memilih mu untuk masuk terlalu jauh, tapi aku hanya menerima mu yang sudah berda ditempat yang sejauh ini. Bukan aku pula yang memilih mu untuk menjadi yang pertama dalam cerita ku, melainkan aku yang menerima mu sebagai cerita pertama ku.tak ada yang salah. Baik aku. Atau kamu. Juga waktu.

Aku mencoba menikmati ini semua, waktu ini. Bersahabat dan berkawan dengan waktu. Berfikir positif atas apa yang aku lihat dan aku dengar. Meski terkadang pemikiran-pemikiran itu yang membuat ku sakit. Jadi benarkan?, bukan kamu yang membuat ku sakit bahkan yang menyakiti ku, melainkan aku sendiri. Karena harapan mullah yang membuat ku kembali bangkit saat aku terjatuh ketika semua itu hanya sebatas kata. Karena pengabaian mu membuat ku bertahan, kelak kamu akan menengok ku disini. Karena keacuhaan mu membuat ku berjuang bahwa pada waktunya nanti, kamu akan kembali. Dan karena terlalu banyak “kamu” lah yang membuat ku kuat.

Namun satu hal, bukan berarti kamu bisa mempermainkan ku atau bahkan menjadikan salah satu dari pelarian, juga salah satu tempat singgah untuk mu. Aku terima itu semua. Hanya satu yang perlu kamu ketahui tentang perempuan. “Ketika kamu berlaku baik pada perempuan, tanpa kamu minta dia kan membalas kebaikan mu lebih dari yang kamu berikan, namun ketika kamu berlaku tak baik, perempuan akan berbuat lebih tak baik dari apa yang kamu buat”. Bukan karma. Tapi apa yang kita tabur pasti itu juga yang kan kita tuai. Bukan hanya untuk mu tapi juga untuk semua hal.

Sebenarnya jika aku mau membuka mata dan telingga, aku harusnya sudah sadar sedari dulu. Jika ternyata pagi yang aku kirimkan sebagai penyemangat mu, hanya kamu anggap sebagai rutinitas pagi mu. Yang sering membuat mu bosan. Namun berbeda dengan ku. Pagi mu adalah semangat untuk ku. Yang tak pernah membuat ku bosan untuk mengawali aktifitas ku yang begitu menyesakan dengan sebuah senyuman. Tapi sudahlah, aku tak bisa memaksa mu seperti aku. Kita berbeda. Aku cukup mengerti. Mengerti bahwa ada rasa sakit saat aku mendengarkanya. Dan entah cukup apalagi yang aku rasakan. Aku tak ingin membuat ini semua menjadi alas an ku, untuk tertunduk dikamar, mennagis lalu mnegasihani diri ku. Tidak. Tapi ini menjadikan ku berdiri tegap, melihat kedepan dan memberikan senyuma terbaik ku.tak mudah. Tapi sampai saat ini aku berjuang, berusaha dan bertahan. Bukan untuk membuktikan pada mu tentang apalah itu, tapi sebgao bukti lu pada Tuhan bahwa aku sungguh-sungguh tak pernah bermain dalam ribuan frasa yang aku sampaikan padaNya.

Aku tak punya kuasa untuk membuat mu berubah, bahkan merubahmu. Yang bisa aku lakukan hanyalah membuat perubahan. Untuk ku. Entah tak lagi bodoh dalam setia ku, atau untuk apalagi aku juga tak tau. Tak ada gunaya bukan, selama ini aku berbicara, sedangkan ternyata tak pernah ada telinga untuk ku. Seperti itu. Aku mengerti apa yang menjadi pilihan mu juga kebebasan mu. Aku tak akan mengusik mu. Huft,, sudah berapa kali aku mnegucapkan kalimat itu? Atau harus berapakali lagi hingga aku benar-benar tak mengucapkanya lagi. Percayalah, itu semua bukan hanya omong kosong ku tapi aku juga sudah mencobanya. Dan tak mudah. Aku hanya tak ingin munafik karena itu hanya akan menambahkan sakit.. sekali lagi buakan aku yang menjadikan ku hebat, bukan pula aku yang menjadikan ku hebat. Melainkan kamu.

Kamis, 27 Juni 2013

jodoh


Semua orang Tuhan kasih hak untuk memilih. Yah, berlaku juga dalam hal jodoh. Tak apa jika kita memilih, tak ada salahnya, masuk akal jika kita ingin seseorang yang terbaik untuk kita, toh tetap nantinya Tuhan yang tentukan siapa jodoh kita.

Jodoh. Kata orang, jodoh itu pasti yang tepat, pasti yang mengerti, pasti yang menerima, pasti yang tulus, dan pasti yang terbaik. Pasti. Pasti?. Lalu untuk mereka yang mengklaim bahwa mereka berjodoh tapi akhirnya salah satu dari mereka selingkuh apa namanya?, terus untuk mereka yang menjujung tinggi pengertian tapi mendasari semua dengan keegoisan apa istilahnya?, juga untuk mereka yang sering bersuara bahwa mereka saling menerima pasangan mereka apa adanya, tapi disisi lain mereka juga meneriakan dengan suara keras bahwa mereka menuntut cantik, rapi, wangi, pintar dari pasanganya, disebut apa? Kalau untuk mereka yang berikar bahwa mereka saling mencintai dengan tulus dan ditengah jalan mereka menucapkan talak, bagaimana? Dan untuk mereka yang dengan pasti yakin bahwa yang dipilih untuk mendampingi mereka adalah orang yang terbaik untuk mereka, tapi akhirnya dengan yakin pula mereka memilih orang yang berbeda, dan menyebutnya lagi dengan “ini yang terbaik buat ku”, apa yang berbeda itu juga disebut jodoh? Berarti setiap manusia bisa dikatakan jodohnya tidah hanya satu? Seperti itukah? Lalu seperti apa?, aku juga tak paham, begitu pula dengan kita..

Mungkin kita berjodoh, mungkin karena kita sudah cukup lama melewati ini semua berdua. Yah layaknya pikiran manusia. Berdua. Hanya aku dan kamu. kita. Ada kamu saat akau sakit, terpuruk, jatuh. Ada aku saat kamu bimbang, takut, terperosok. Meski diawal kisah kita, banyak ujian yang menerpa kesetiaan kita. Banyak. Aku harus menahan rindu ku, karena tak ingin sakit jika menyadari bahwa jarak kita yang begitu saat jauh. Aku harus menahan tangan ku untuk memeluk mu karena tubuh mu yang tak berada didekat ku. Aku harus menahan kaki ku untuk melangkah bersama mu karena kaki mu yang kuat sedang melangkah menuju pendewasaan waktu. Tapi aku bersyukur untuk waktu itu, untuk jarak itu. Aku yang terlahir mandiri, cukup kuat untuk menari-nari bersama rindu ku agar aku tak begitu menyadari bahwa ada yang namanya jarak. Aku yang terlahir tak bergantung pada orang lain, sangat kuat untuk melipat tangan ku, bersujud padaNya memohon agar kamu diberi perlindungan ditempat yang aku sendiri tak tau letaknya. Dan aku yang terlahir dengan ketangguhan ku, begitu kuat untuk melangkahkan kaki ku tanpa kaki mu demi meraih impian ku disini. Iya ingatkah itu? Saat-saat itu? Dimana hanya ada suara, untuk mu selalu mengingatkan ku, member kabari untuk ku. mengingat kan jangan telat, apalagi lupa makan? mengucapkan kata rindu jika rembulan mulai menemani ku? Dan menyalurkan semangat untuk ku, mulai mengawali aktifitas ku, melalui frasa-frasa yang terucap begitu menggetarkan? Ingat? Atau mungkin kamu lupa karena sudah dua tahun itu semua berlalu. Dan sekarang kamu disini..dititik ini..disudut Ini.. bersama ku tentunya. Pikir ku.

Pagi ini, aku merasakan sesutau yang berbeda. Aku, rasa ku. Tak tau. Aneh. Dan tak baik. Huh. Aku tak memperdulikan masalah dalam diri ku, aku bergegas menghampiri mu. Dalam keadaan ku yang aneh, aku mendapati mu masih dengan keadaan yang aneh. Ah. Sabar, aku diam membangunkan mu diwaktu dimana mentari mulai memanas. Tapi panasnya mentari tak sepanas hati ku, saat aku mendapati handphone mu yang belum sempat aku buka, sudah kamu raih. Aku memuncak, tak biasanya kamu seperti ini, dan tak biasanya pula rasa ku seperti ini, ada yang kamu sembunyikan. Ada. Selama ini kita tak pernah menutupi apapun, tapi kali ini? Apa?. Cukup! Aku tak butuh omong kosong mu yang dari tadi kau jelaskan pada ku.

Aku tak bisa menyembunyikan rasa ku. Aku tak bisa menahan air mata ku. Mungkin ini hal biasa, tapi kamu tau dampaknya begitu luar biasa. Apa? Apa yang membuat mu tiba-tiba menutupi yang tertutupi? Apa yang membuat mu, menjadikan ku seperti ini?. Pikiran ku kalut. Yang ada jika ternyata kamu A, B, C, D, dan lain sebagainya. “belum saatnya kamu tahu” kata mu menenangkan ku. Ikhlas.. ikhlas.. ikhlas.. itu yang aku coba dapatkan

 Kamu tahu apa yang terjadi pada ku?. Kehadiran mu, sosok mu, sikap mu, membuat ku berubah. Aku menjadi tergantung pada mu. Aku menjadi terbiasa dengan tatapan mu. aku menjadi hafal dengan sikap-sikap mu. aku menjadi mengerti dengan kebiasaan mu. dan aku menjadi sangat sakit saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Wanita. Ya wanita. Oke, aku tak menuduh mu, sama sekali. Tapi, tolong jelaskan pada ku. Siapa wanita itu? Wanita yang membuat mu menutupi itu semua dari ku. Jika alasan mu, kamu takut aku sakit, jika mengetahui yang sebenarnya. Apa kamu tak coba memikirkan bagaimana sakitnya aku jika yang aku terima dalah kebohongan. Aku lebih memilih sakit dari kejujuran dari pada sakit karena kebohongan.

Perkenalan singkat mu dengan wanita itu, yang kemudian membuatnya berharap lebih dari mu. aku paham, aku juga wanita. Aku juga senang jika diperhatikan, dan wajar jika wanita menganggap perhatian yang mungkin menurut mu biasa itu menjadi sebuah harapan. Sadarlah bahwa kamu sedang berhadapan dengan wanita, sayang. Wanita itu. Aku pun tak menyalahkannya, juga kamu. mungkin memang harus seperti ini ceritanya. Harus. Kamu harus mengenalnya. dia harus merasakan rasa nyaman yang dia dapatkan dari mu. Dan aku? Ya aku harus menerima kenyataan yang ada. Kenyataan jika ada yang baik dan yang belum baik. Aku yang baik, dan dia yang belum baik, dan kamu? bukankah berarti kamu harus menjadikanya baik? Yang berarti kamu harus meninggalkan aku?. Ikhlas. Tapi aku manusia!. Aku punya rasa takut, takut saat apa yang kita impikan untuk masa depan kita, hanya akan jadi impian. Takut saat nama-nama yang indah untuk anak-anak kita kelak hanya akan menjadi kenangan. Takut saat restu yang susah payah kita dapatkan akan menguap begitu saja. Takut saat kepercayaan ini tak bisa kembali seperti dulu kala. Dan aku takut jika ternyata aku merelakan mu dengannya

Seperti ini ceritanya, seperti ini pelajaranya. Aku bersyukur bisa melewatkan ini semua bersama mu. bersyukur dapat mengenal mu, yang mungkin akan menjadi jodoh ku. Juga bersyukur karena sosok wanita itu, yang mungkin jodoh mu. Sekali lagi terimakasih karena kamu masih disini berdiri bersama ku, bukan bersamanya, terimakasih karena kamu masih dititik ini melangkah bersama ku, bukan bersamanya, dan terimakasih karena kamu juga masih disudut ini bertahan bersama ku, bukan bersamanya. Tapi masih juga disini, dititik dan sudut ini, aku sering bersujud melipat tangan dan menunduk meneteskan air mata ku dan menyebut nama mu yang mungkin Tuhan tentukan kamu menjadi jodoh ku.

#terimakasih untuk kepercayaan ini aku berdoa yang terbaik untuk kalian

Rabu, 19 Juni 2013

melody



Tuhan mencintai nya dengan cara yang berbeda. Berbeda, yang berarti tak sama. Iya, tak sama, berbeda. Melody. Seorang gadis yang Tuhan inginkan berbeda. Tujuh  tahun yang lalu, dimana Melody harus menerima kenyataan bahwa Tuhan menunjuknya untuk menyatakan bahwa Tuhan sangat mencintainya, mencintainya dengan cara berbeda.
Gadis kecil yang sangat manja, yang mendapatkan apa yang selalu dia inginkan, bertumbuh ditengah keluarga yang harmonis,  iya,  sebelum tujuh tahun yang lalu. Sehari bisa dua kali Melody mendapatkan boneka Barbie kesukaanya, seminggu bisa dua kali Melody berjalan bersama ayah dan ibunya untuk sekedar berkeliling kota, sebulan bisa dua kali Melody mendapat baju baru. Melody menjadi putri kecil, yang setiap pagi berbagi canda tawa dengan ibunya, setiap sore bermain bersama teman-temanya dan setiap malam, selalu, sebelum dia beranjak tidur  didongengkan oleh ayahnya. Ayah adalah sosok yang menjadi idolanya, dulu. Ibu menjadi sosok yang selalu memperhatikanya, dulu. Dulu. Dulu sekali, sebelum Melody harus menerima kenyataan yang mungkin seharusnya tak dia terima diusianya yang masih ingin bersenang-senang, diusianya yang seharusnya tak memikirkan jauh kedepan, diusianya yang harusnya bisa tertawa, bercanda, tiba-tiba diproses untuk menerima kasihNya.
Pernah suatu ketika, kala itu. Melody mengalami sakit mendadak. Mendadak panas, mendadak tak bisa bangun, mendadak lemas, mendadak tak mau bicara, mendadak tak mau mendengar, mendadak tak mau membuka mata, mendadak membuat seluruh keluarganya menangis, mendadak. Mendadak Melody merasakan sakit yang menyesakan dadanya, mendadak merasakan kesakitan yang begitu luar biasa, saat apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat tak sama, sangat berbeda. “ndug, kenapa? Bilang ndug sama bulik, jangan cuma diam saja ndug” pinta tantenya yang saat itu tak kuasa melihat keadaan Melody. “ndug, pengen apa? Ice cream? Baju?, apa ndug? Nanti eyang belikan”, bisikan lembut neneknya, yang menggetarkan setiap orang yang ada disitu. “ndug, siapa yang nakali kamu cah ayu,?” Tanya kekwatiran itu diperdengarkan oleh tantenya. “ndug, maem ya, mau apa? disuapin ibu ya ndug”, ibu, iya suara ibu terdengar oleh Melody. Terdengar langkah kaki setengah berlari sambil terisak “ndug, lihat ndug, lihat tante belikan baju buat kamu lihat ndug, ayo dibuka ndug matanya” kalimat yang akhirnya memecahkan tangis yang tertahan, namun Melody hanya diam, menutup mata, menahan, menahan agar semua orang tak merasakan rasa sakit yang ia rasakan, menahan agar air mata yang ia tahan tak menambah banyaknya air yang sudah meluap. Melody hanya menutup mata tak ingin melihat bayangan yang terus menyakitkan terlihat lagi didepanya, Melody hanya menutup telingga agar dia tak mendengarkan lagi suara-suara yang menawarkan kebahagiaan untuknya, Melody tak mau membuka mulutnya untuk mengutarakan rasa sakit, sakit yang membuatnya tiba-tiba mendadak seperti itu. Tiba-tiba, tiba-tiba Melody harus melihat sosok yang mengajarkanya kasih, harus membagikan kasihnya kepada buah cintanya bersama wanita lain. Iya, Melody melihatnya, melihat bayi mungil yang tidak berdosa digendong oleh seseorang yang gagah, yang selama ini Melody anggap sebagai idola, yang setiap malam mendongengkan tentang perumpamaan kasih, mengajarkan Melody lagu-lagu yang selalu dia ingat, dia sukai. Sosok itu berjalan di depanya, memberikan senyumanya, senyum yang Melody tidak tau apa artinya, senyum yang sudah tak ingin lagi dilihat Melody, senyum yang menyakiti hatinya. Mulai dari itu, saat itu, kala itu, Melody tak ingin mengenal sosok itu, bahkan tak ingin memanggil sosok itu dengan sebutan, ayah.
Melody harus berjuang menahan keinginya memiliki boneka Barbie seperti kepunyaan teman-temanya, baju baru sperti yang sering dipakai saudara-saudaranya, atau sekedar jalan-jalan ke mengelilingi kota,melihat lampu-lampu yang indah lagi. Melody kecil, tak bisa lagi menjadi Melody yang manja, yang sebentar-sebentar menangis karena tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi Melody kecil tak ingin membebani ibunya, dia bisa menahanya, menahan apa yang dia inginkan, dia terlalu sadar jika ternyata hidupnya telah berubah. Melody tak ingin menambah berat langkah kaki ibunya yang setiap hari harus bangun pagi, kedinginan, tapi dengan hangat, tangan kirinya mendekap Michael, dan dengan kuat tangan kananya mengandeng  Melody. Iya Melody melihat, mendengar, merasakan bagaimana perjuangan ibunya. Hanya ibunya. Melody terpaksa harus membiasakan diri dengan keadaan yang tak sama lagi. Melody tak begitu saja menutup matanya, tapi dia memmbuka matanya lebar-lebar untuk melihat kehidupan, kehidupan yang harus dia jalani. Kehidupan yang tak bisa membuatnya memilih lari, yang ada hanyalah pilihan bahwa dia harus tetap berjuang maju. Karena kalaupun ada pilihan lari dia tak tahu harus lari menuju siapa?, harus lari sekencang apa?, ya Melody memilih maju, maju untuk melihat rencana indah apa yang telah Tuhan siapkan untuk nya.
Tujuh tahun silam, tapatnya saat melody berumur enam tahun. Enam tahun? ,iya enam tahun kala itu. Dia harus diperhadapan dengan sesuatu yang membuatnya harus menahan rasa sakit dari, perpisahan, pengkhianatan, perselingkuhan. Dia harus bertumbuh tanpa adanya kasih sayang, perhatian, kepedulian, dia bertumbuh dengan kemandirianya, ketakutanya, keminderanya. Mandiri karena dia harus bisa melakukan apapun sendiri, takut jika kelak dimasa depanya dia menemukan sosok yang memebuat dia merasakan rasa sakit yang sama, dan minder karena tak ada sosok yang memberinya support, semangat, dorongan yang membuatnya lebih maju. Seratus delapan puluh drajat, hidupnya berputar
Waktu berjalan, tak membuatnya menjadi pribadi yang lemah melainkan kuat, proses, apayang dia liahat, dengar, rasakan tak membuatnya menyerah, tapi membuatnya berjuang. Meski dia berbeda, dia ingin membuktikan bahwa dia juga bisa melakukan hal yang orang lain sama lakukan. Dia ingin menguatkan orang-orang disektarnya. Dan sampai akhirnya Melody harus memperkuat hatinya untuk menahan hati yang harus tersakiti lagi, memperkuat telingganya untuk setiap apa yang orang bicarakan tentang keluarganya, dan terlebih memperkuat mata untuk melihat keharmonisan dari setiap keluarga yang dialihat. Salahkah jika dia tak ingin bermimpi? Ya dia tak ingin melambungkan semua khayalanya, khayalan bisa makan bersama dimeja makan bersama keluarganya, khayalan bisa bersendau gurau setiap malam didepan televisi, dan khayalan dia bisa bertukar pikiran saat dia mengalami sesuatu yang sulit untukdipecahkan, simple. Hanya itu, tapi terlalu rumit dan sakit jika harus terus dikhayalkan. Ini bukan mimpi, yang ketika bangun dia tak bisa merasakanya, tapi ini dunia nyata, dunia yang harus dia rasakan. Nyata, senyata senyuman kebahagiaan yang  tidak pernah dia lihat lagi setelah tujuh tahun yang lalu. Senyuman manja yang terlukis dari bibir ibunya saat sedang berceloteh dengan seorang pria. Setiap hari, setiap melody pulang sekolah, dia selalu melihat perhatian yang dia harapkan bisa didapatnya, terpapang nyata didepanya dan orang lain yang mendapatkanya “apa arti kehadiran ku dan Michael? kenapa tak bisa membuat ibu tersenyum bahagia seperti saat bersama pria itu? Apa ibu tak bahagia jika hanya memilki aku dan Michael ?”. Capek. Raganya juga hatinya. Kenapa harus menerima sakit lagi, kenapa tak ada yang bisa membuatnya percaya akan yang namanya kasih sayang. Tapi dia selalu berusaha membuat orang disekitarnya tak merasakan rasa yang dia rasakan. Berusaha selalu melakukan yang terbaik,meski apa yang dia terima tak selalu baik. “Cukup aku” ucapnya
Sampai detik ini, ketika Tuhan memberi aku kesempatan berbincang denganya, ketika Tuhan ijinkan aku mendengar kisahnya, ketika Tuhan  menginginkan aku menghampirinya setelah dia meniup lilin putih diatas kertas yang bergambar roti tar dengan gambar lilin angka tigabelas di atasnya, dan ketika Tuhan mempercayakan aku untuk mengusap air matanya, aku pilu melihat mata ketakutan itu. Ketakutan dengan yang namanya cinta, kasih sayang. “itu mengapa aku tak bisa percaya dan tak mau percaya lagi dengan cinta dan kasih. Aku takut merasakan rasa sakit lagi. Disini masih sangat terasa sakit” kalimat  itu bukan hanya aku dengar, tapi juga selalu terngiang-ngiang dipikiran ku. Dan membuat ku merasakan sakit itu juga, sakit yang dirasakan oleh seorang gadis remaja, sakit yang memberikan bekas yang sangat dalam dan perih. Sakit yang tak bisa sembuh dengan hitungan detik. Namun dia selalu berusaha bangkit dalam sakitnya.
#terimakasih Tuhan untuk melody, dan bersyukurlah untuk setiap melody dalam hidup mu

peran.cerita



Dunia ini panggung sandiwara. Sandiwara dalam cerita, dan cerita yang didalamnya terdapat peran, yang kita sebagai pemainya. Dan Tuhan sebagai Penonton, Penulis juga Sutradaranya. Sutradara yang menentukan peran kita. Penulis  yang menentukan endingnya. Dan Penonton yang melihat bagaimana kita, menerima dan menjalankan peran yang diberikanNya dengan baik. Banyak peran yang ada, tidak hanya yang baik dan juga yang jahat. Tapi banyak.

Aku. Juga memerankan peran ku. Peran yang harus berbeda, dan yang harus aku terima. Buakankah tugas kita sebagai pemeran hanyalah menerima peran yang diberikan kepada kita?. Dan bukankah peran yang kita dapat sudah ditentukan denagn baik sesuai kemampuan kita oleh Tuhan?. Dan aku tidak mengerti apakah kita diberi pilihan untuk menganti peran kita?. Jika ya, mungkin… mungkin aku ingin menganti peran ku. Peran yang aku peran kan supaya sama dengan yang lain. Bukan yang berbeda. Aku terlalu mengerti jika memang aku harus mengucap syukur untuk semua yang terjadi untuk ku. Untuk semua yang datang dan pergi dari proses ku. Untuk semua yang menyakitkan dan membahagiakan di dalam rasa ku. Untuk semua yang hitam dan putih di warna hidup ku. Dan untuk semua yang baik ataupun buruk menurut ku. Aku terlalu mengerti jika memang ini yang harus aku peran kan, dan aku sangat mengerti jika memang aku berbeda.

Disini, disudut dan titik ini, aku mencoba untuk berperan sebagai yang egois. Aku memilihnya. Tapi mungkin bukan seperti ini ceritanya. Aku hanya mencoba memebuat cerita sendiri, yang ingin menguntungkan aku. Aku selalu mengalah selama ini, mengalah pada mu, mengalah pada nya, mengalah pada mereka, aku ingin mencoba, apa aku bisa beruntung, beruntung seperti mu, seperti nya, seperti mereka. Ya mencoba. Dan aku letih. Letih karena terlalu sering mencoba. Bukan seperti ini, menutup mata, menutup telinga, menutup mulut, menutup tangan juga kaki, apalagi hati. Bukan. Bukan seperti itu, aku menyerah, aku mengangkat tangan untuk peran ini. Aku tak mampu, aku tak sangup. Ini bukan peran ku

Apa aku salah? Jika aku ingin peran yang sama seperti mu?. Jika aku menginginkan jalan yang sama seperti nya?. Jika aku berharap mendapatkan sesuatu yang sama seperti mereka?. Aku salah, jika aku ternyata lelah?, jika aku ternyata buruk?, dan jika aku ternyata tak sekuat yang orang-orang lihat?. Mungkin memang aku salah. Sangat salah. Yang benar adalah aku harus memerankan peran seperti ini, aku harus sadar bahwa semua yang aku inginkan belum tentu yang terbaik untuk ku, dan aku harus berhenti mengharapkan apa yang orang lain dapatkan, ya, karena memang aku tidak membutuhkanya. Munafik

Aku manusia. Sama seperti mu, seperti nya, seperti mereka. Aku bukan malaikat! Dewa! bahkan Tuhan!. Aku juga ingin ada telingga yang mendengarkan ku, bukan gundah tapi tawa ku. Aku ingin ada mata yang melihat ku, bukan saaat aku tergolek lemah tapi saat aku kuat menggerakan seluruh tubuh ku. Aku juga menginginkan mulut, bukan untuk mengatakan “aku selalu ada untuk mu” tapi yang mengatakan “kamu tidak sendiri”. Aku inginkan tangan, bukan yang menarik ku saat aku terjatuh tapi yang mengngegam tangan ku saat aku akan terjatuh. Aku juga ingin kaki, bukan yang selalu melangkah bersama ku tapi yang berlalri-lari kecil bersama ku menari dibawah hujan. Dan aku sangat mengingikan ada hati, bukan yang sedih saat saat aku sedih tapi yang bahagia saat aku sedang bahagia. Dan untuk hal itu pun aku sadar bahwa aku belum tentu mendapatkanya

Tapi itu bukan peran ku. Tapi peran mu. Itu bukan bagian ku. Tapi bagian nya. Itu bukan cerita ku. Tapi cerita meraka. Aku berbeda. Aku tak sama dengan mu, dengan nya, juga dengan mereka. Aku tak bisa menutup telingga, karena aku harus mendengarkan langkah kaki mu yang berlari gundah menghampiri ku. Aku harus membuaka mata, untuk melihat bahwa ada yang sedang kelelahan menjalani proses hidupnya. Aku juga tak ingin menutup mulut ku, karena ada mereka yang membutuhkan “aku selalu ada untuk mu” dari mulut ku. Aku selalu ingin mengulurkan tangan ku, untuk menarik tubuh mu yang terjatuh didepan ku. Aku juga tak bisa menutup kaki ku rapat-rapat, karena aku harus berlari, menghampir, kemudian melangkah bersama mu. Dan aku harus bisa membuka hati, agar aku bisa ikut merasakan rasa sesak sedih yang sedang berkecambuk di hati mu, di hati nya, juga hati mereka. Ini peran yang Tuhan mau aku dengan apik memerankanya. Ikhlas

Lelah. Tapi Tuhan tak membiarkan aku keletihan memerankan peran ku. Ada telinggaNya yang mau mendengarkan kegundahan ku, saat aku merasa bahwa peran ini tak adil. Ada mataNya yang tak pernah jauh-jauh memandang ku, sangat dekat, saat aku berada didepanNya tergolek sangat lemah. Selalu ada mulutNya yang tak pernah berhenti mengatakan “Aku selalu ada disini, dihati mu, dipikiran mu”, ketika aku mulai merasa  sendirian. Selalu juga ada tanganNya yang mengulurkan, menarik, mendekap saat aku tersungkur, terjatuh, terperosok ditempat yang sangat curam. Juga ada kakinya yang tidak hanya berjalan bersama ku tapi menggendong ku, ketika aku mulai lelah menjalani peran cerita ku. Dan selalu ada hatiNya, yang memberi rasa nyaman, tenang, aman, jika tiba-tiba hati ku merasa sakit, sesak, sedih karena harus menyadari banyak tugas dan tangunggung jawab yang harus aku kerjakan, sendiri.

Aku, kamu, dia, dan mereka. Peran kita berbeda. Cerita kita tak sama. Tapi sang Sutradara telah memilih kamu memerankan peran mu. Sang Penulis sudah menentukan ending yang indah untuk peran yang dia harus jalani. Juga sang Penonton, telah menyiapkan beribu pujian untuk mereka yang memerankan perannya dengan apik, dan siap memberikan applause yang luar biasa untuk ending yang mereka jalan kan dengan sangat baik. Tak terlewatkan juga, untuk ku yang berbeda, yang memang sang Sutradara, sang Penulis, sang Penonton menunjuk ku untuk tak sama seperti mu, seperti nya, seperti mereka. Berbeda

#terimakasih Sutradara, Penulis, dan Penonton