Selasa, 30 April 2013

menguap


Seperti ketika memasak air, lalu kita pergi dan kita tidak menjaganya, sampai akhirnya air mendidih hingga terlalu mendidih dan dibiarkan begitu saja yang terjadi ketika kita kembali adalah kita tidak akan mendapatkan air matang yang diinginkan, yah..jangan kan air yang matang yang ada hanyalah air yang telah menjadi uap. Yang tidak bisa kita nikmatai namun hanya bisa kita biarkan begitu saja hilang. Yang ternikmati adalah rasa kecewa dan penyesalan karena tidak menjaganya.  
Penjelasan yang kamu berikan tidak bisa membuat ku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang sering kali aku tanyakan pada diri ku sendiri. Malah lebih dari itu. Aku semakin betanya-tanya pada diri ku sendiri. Aku tak bisa mengerti akan semua penjelasaan itu, dan aku juga tak mengerti kenapa aku tak bisa mengutarakan ketidak mengertian ku itu secara langsung. Seperti  terhipnotis atau apalah semacam itu, mulut ku selalau terkunci ketika aku berhadapan dengan mu, ketika aku mendengarkan semua penjelasan mu, anugrah semacam apa yang Tuhan  berikan pada mu sehingga membuat ku menjadi semacam ini?, ah untuk kesekian kalinya aku bertanya pada diri ku sendiri.
Semoga kamu tidak menyadari itu, apalagi menyalahgunakan itu, ya menyalahgunkan sebagi senjata mu untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan ku yang mungkin menurut mu lucu dan tidak bisa kamu jawab. Semoga. Semoga kamu juga tidak menggunakan senjata mu itu untuk menhadapi para wanita-wanita diluar sana yang terpikat oleh apa itu yang aku tidak tau. Mungkin karisma. Kata orang.
Aku sepaham dengan prinsip mu, tapi aku tak paham dengan apa yang kita jalani. Frontal. Tapi memang seperti itu kan  yang terjadi?. Apa aku salah? Lalu yang benar seperti apa? Beri tahu aku? Aku kurang jelas, aku kurang paham, aku kurang mengerti. Aku sering tertawa pilu jika mendengar kalimat dari salah seorang seniman idola ku Sudjiwotedjo:  “wanita  memang menyukai ice crem tapi wanita lebih suka kepastian”. Harusnya semua pria akan menyadari  jika mendengar ucapan itu, ya tapi untuk pria yang memiliki perasaan saja yang akan tertusuk dengan ucapan itu.
Sungguh aku sama sekali tak menyudutkan mu, atau menyalahkan mu seperti orang-orang. Aku hanya takut jika suatu ketika aku tak mampu lagi untuk bertahan bersama rasa ini. Suatu ketika. Aku merasa lelah karna berjalan ditempat seorang diri. Apa kamu juga merasakan ketakutan yang sama? Apa kamu juga bingung jika tiba-tiba aku melakukan hal aneh? Apa kamu juga khawatir jika aku tak memberi pesan “selamat pagi” sebagai  kabar untuk mu? apa kamu juga sedih jika aku merasa tertekan? Apa kamu juga menangis jika kamu tak tau aku kenapa? Apa kamu juga sakit saat aku disakiti. Apa kamu merasakan yang semuanya yang  aku rasakan.
Bagaimana jika suatu saat aku menghilang bersama rasa ini, apa kau akan mencari ku? Apa kau akan menunggu ku? jika aku tak bisa lagi mengucapkan kata sayang? Apa kamu akan bertahan supaya aku kembali lagi mengucapkan kata sayang pada mu? lalu jika kamu bertahan, tapi aku tak kembali apa kamu masih akan bertahan? Ah aku tak ingin menjawabnya. Aku takut jika semua rasa ini menuap begitu saja hilang tanpa sisa karena aku tak kuat lagi untuk menjaganya, beri aku penjelasaan dari mu. penjelasan  yang dapat aku terima dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan  ku  dan dapat menjadikan alsan untuk aku tetap kuat menjaga rasa ini.

#jika mau  ikutlah menjaga rasa ini. Supaya jangan hilang menguap

Jumat, 19 April 2013

aku disini


  Berat . Satu kata yang begitu sangat terasa di hati ini. Saat ini. Hari ini. Berat, untuk ku dapat mengerti kisah ini, berat untuk ku dapat memahami semua yang terjadi, berat untuk ku menjalani semua tanpa mu. Kamu ,sosok yang selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi ku, sosok yang selalu menerangi hari ku yang gelap, sosok yang mampu membuat ku tersenyum walau hari ku begitu menyedihkan, sosok yang aku tak tau kenapa aku begitu sangat dalam menyimpan rasa ini terhadap mu.

  Sulit untuk ku menjelaskan tentang mu jika hanya melalui konsonan kata, kalimat, paragraph bahkan dalam bentuk buku sekalipun. Seberapa tebal buku, masih kurang bagi ku untuk menjelaskan seberapa berartinya kehadiran mu untuk ku. Aku tak tau, aku tak mengerti kenapa sosok mu selalu ada dipikiran, hati ku.

  Kamu buat ku belajar tentang waktu, proses, menunggu, setia, sabar dan segala embel-embelnya. Kamu buat ku belajar tantang ketulusan dan keikhlasan, tentang cinta dan kepedihan, komitmen dan kepercayaan. Lebih dari itu, lebih, sampai ku tak bisa mengungkapkanya. Yang ada sekarang hanya sosok mu dan aku yang terbungkam kerena membayangkanmu. Membayangkan . Membayangkan andai sosok mu hadir saat ini, andai kamu ikut merasakan rasa sesak ini, andai kamu merasakan getaran ini, dan andai kamu melihat air mata kerinduan ini.

  Pasti kamu pun bertanya-tanya kenapa aku segila ini, kalau kamu bertanya pada ku, aku jamin kamu tak akan mendapatkan jawabanya. Karena bagi ku tak ada jawaban ataupun alasan untuk dapat menjelaskan kenapa aku segila ini. Karena sungguh aku tak mengerti, aku tak tau. Sungguh . Dan apakah semua pertanyaan perlu jawaban? Kalau ya, bisa kah aku  mendengar jawaban dari mu, apakah kau merasakan rasa segila ini?, apakah arti kehadiran ku untuk mu? Apakah….? Apakah…? Apakah…? Ahh lihat, aku bahkan tak mampu untuk berbicara pada mu. Kamu terlalu indah, kamu terlalu hebat, kamu terlalu sempurna untuk ku, pantas kah aku? Layak kah aku?.

  Mungkin aku tak merasakan rasa sakit yang sekarang kau rasakan, tapi lebih dari sakit mu, aku juga sakit. Sesak. Sedih . Saat melihat mu seperti ini, saat aku tak bisa berbuat banyak untuk mu, saat aku tak bisa meringankan beban mu, dan hanya aku, mata dan tangan ku yang ada untuk mu.. Disetiap saat, disudut ini, dipercakapan ku denganNya, nama mu selalu ku bawa, aku tak henti-hentinya meminta untuk yang terbaik buat mu, tak henti-hentinya meminta Tuhan selalu menjaga mu saat kamu tak berada didekat ku, tak henti-hentinya menitipkan semangat untuk mu supaya kau mampu menjalani hari yang sangat padat, berat dengan segala rutinitas mu.

  Aku ingin sosok mu ada saat aku membuka mata, dan saat aku menutup mata, tapi mungkin itu akan terjadi kelak. Ya, jika Tuhan mengijinkan kita untuk menjadi sepasang selamanya. Namun yang ada sekarang adalah nama mu. Nama dimana setiap aku membuka mata selalu ku sebutkan, dalam perbincangan ku denganNya,

  “aku titip dia Tuhan, untuk aktifitasnya hari ini, titip dia karena Tuhan yg selalu ada didekatnya, aku tak bisa  menjaganya 24 jam, jaga i dia Tuhan, ingatkan kan dia supaya makanya tepat waktu, ingatkan dia untuk mengurangi kebiasaanya yang kurang baik, ingatkan dia supaya menjaga kesehatanya, dan ingatkan dia supaya dia g berbuat nakal, ingatkan dia untuk sebentar saja istirahat disela-sela kesibukanya, dan ingatkan dia akan aku sedikit saja Tuhan, sedikit. Buat harinya menjadi berkat untuk dia dan juga orang-orang disekitarnya,..”

  Nama mu juga selalu ada saat aku hendak menutup mata, saat aku menceritakan perjalanan sehari ku kepadaNya.

  “aku mengucapsyukur Tuhan karena Tuhan masih kasih aku kesempatan untuk membawa namaya dalam percakapan ini, kalau saat ini dia masih terbangun dengan segala tanggungjawab pekerjaanya, lancarkanlah supaya dia segera dapat beristirahat, kalau dia masih sibuk dengan kegiatanya, ingatkan Tuhan supaya dia lekas beristirahat, tidak lagi begadang. Jaga i tidurnya supaya dia dapat beristirahat dengan baik, aku tau pasti seharian ini dia sangat lelah dengan semua tugas-tugasnya, jaga i dia, istirahatnya agar esok hari dia dapat beraktifitas kembali, dan dapat Tuhan pakai dalam memuliakan namaMu..”

  Nama mu yang selalu aku banggakan, karena mampu membuat ku seperti ini. Seperti sekarang dimana aku bisa membuka hati yang telah lama terkunci ini, dan kamu yang mampu membukanya. hatinya yang dulunya aku tak pernah ingin membuka hingga akhirnya Tuhan mengijinkan mu untuk datang, dan ternyata kamu yang mampu. Kamu yang pertama dalam aku mengerti akan sebuah rasa, yang sebelumnya aku tak mau mengerti, tak ingin mengerti, dan takut untuk aku mengerti.

  Dari sini, disudut ini, aku berdoa supaya kamu baik-baik saja . Jujur aku sangat khawatir. Tak ada kamu dipagi ku dan kamu dimalam ku, aku tak biasa, dan aku tak mau. Apa kamu sudah bosan? Apa benar kamu ingin meninggalkan ku? Sendiri? Hanya ditemani rasa ini? Apa aku terlalu menganggumu? Atau aku sangat merepotkan mu? jawablah, aku takut. Aku takut, sangat. Aku hanya tak mau lebih membebani mu, tak mau aku menyita semua pikiran mu, walaupun aku ingin menyampaikan sesuatu kepada mu. Tapi aku mengerti, dan berusaha mengerti. Aku tak akan tega membuat mu pusing dengan keberadaan ku bersama pikiran, pertanyaan, dan rasa ku.

  Jika kamu merasa aku menganggumu aku tak akan lagi menganggumu. Aku akan disini dititik ini disudut ini dipersimpangan ini, berdiam, menutup mata dan melipat tangan menyebutkan nama mu, menunggumu, lagi. Menunggu sampai kau memanggil ku, berjalan kearah ku dan meminta bahu ku untuk mu bersandar. Aku disini


#aku disini untuk mu, berdoa untuk mu

Kamis, 11 April 2013

terlalu banyak "kamu"




Terkadang apa yang ada dihati dan yang ada di bibir itu berbeda begitu juga kenyataa,  bisa berbeda. Apakah aku harus percaya dengan rasa dihati ku? Atau kenyataan yang berkata lain? Dan bibir yang berucap tak sama?. Bibir bisa bilang sayang untuk ku, tapi hati mungkin bisa bilang sayang juga, tapi untuknya. Aku pun juga tak tau apa kata sayang yang selam ini terucap dari bibir mu juga terucap dari hati mu. Percaya . hanya bisa berusaha untuk percaya. Selamanya.

Bukan karena aku wanita yang terlalu cemburu pada mu. Bukan . aku sadar betul aku bukan siapa-siapa, tapi lebih karena aku terlalu sayang pada mu. aku hanya takut jika ternyata aku berjalan sendiri(an) dengan perasaan ini, sejauh..sehebat..dan sedalam ini. Tak masalah tak ada kepastian untuk ku, sudah terlalu biasa walaupun perih, aku bisa bersabar berteman dengan waktu, aku bisa setia bersahabat dengan waktu. Aku hanya minta sebuah kejelasan. Kejelasaan tentang siapa “kamu”?. jujur aku begitu tak paham dengan sebutan itu. “Kamu” siapa? “Kamu” yang seperti apa? “Kamu” yang bagaimana? “Kamu” yang dimana? Jelas kan pada ku.

Mungkin “kamu” dimasa lalu mu?, atau mungkin “kamu” dimasa depan mu?, dan bahkan mungkin “kamu” dimasa sekarang?. Aku tak tau, aku bingung, aku tak mengerti, aku tak bisa terus-terusan menjawab ini semua seorang diri, aku mau kejelasan, aku perlu kejelasan, aku butuh kejelasan, Ah..kejelasan? aku sadar bahwa aku tak punya hak untuk meminta mu menjelaskan “kamu” ini kepada ku. Aku tak berhak. Namun…

Aku takut jika “kamu” yang membuat mu bahagia itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang bisa membuat mu tertawa lepas itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang didalam doa mu itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang ada dipikiran mu itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang ada dihati mu itu bukan aku.
Dan aku takut jika “kamu” yang selama ini terucap dibibir mu itu ternyata bukan aku. 

Aku takut bukan karena aku tak akan bisa memiliki mu. Bukan. Tapi karena aku takut. Mungkin kamu tak merasakan rasa takut ini, atau bahkan kamu tak pernah mengenal rasa takut ini. Mungkin. Mungkin jika kamu tak memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasa. Rasa yang aku pun tak tau kapan datangnya, yang aku tak tau kenapa mendatangi ku, dan yang aku tak tau namanya. Entahlah.

#semoga “kamu” itu aku

Selasa, 26 Maret 2013

anugrah




    Semua yang telah disatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan manusia. Oh ya? Lalu kenapa ada perpisahan? Karena Tuhan juga?. Bukan. karena keegoisan manusia itu sendiri, dan kenapa ada perselingkuhan? Karena tidak ada kesempurnaan?. Tidak. Tapi karena manusia itu tidak pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya.

 Apa mereka, setiap pasangan yang Tuhan telah satukan, terlalau gegabah dalam melangkah sebelumnya? Melangkah dalam buaian sesuatu yang bernama nafsu, terbius oleh kenikmatan yang mengatasnamakan cinta. Apa mereka, setiap pasangan tak melihat anugrah yang Tuhan titipkan untuk mereka, apa anugrah ini hanya sebuah pelengkap untuk menjadi seorang ayah dan seorang ibu? sampai mereka tak melihat bahwa anugrah ini telah berubah menjadi sebuah korban hanya karena keegoisan mereka.

  Tak melihatkah mereka setiap air yang keluar dari mata ini, setiap pilu yang terasa sakit dihati ini, setiap kecewa yang menyesakan dada ini, dan setiap amarah yang terselubung dalam setiap denyut ini. Harus dengan cara apalagi untuk menyadarkan mereka akan bayangan tubuh ini, dengan cara apalagi untuk membuat mereka melihat kehadiran tubuh ini, dengan menyakiti diri ini atau mengorbankan diri ini? Lalu apa pengorbanan mereka untuk anugrah ini? Bukankah mereka yang harusnya berkoran, bertangung jawab, bekerja keras untuk anugrah dari Tuhan ini. Kalau  memang setiap anugrah tau bahwa nantinya anugrah ini menjadi korban, pasti setiap anugrah ini tak ingin dilahirkan  sebagai yang mereka sebut dengan istilah buah cinta. Istilah. Istilah untuk cinta yang tak abadi.

    Haruskah anugrah ini mendengar setiap cacian, teriakan, sumpah serapah dari mereka yang harusnya memberikan nasehat, wejangan, semangat, motivasi kepada anugrah ini?, haruskah anugrah ini melihat tamparan, siksaan, bahkan perlakuan mesra dari mereka kepada orang lain? Apakah itu yang meraka lakukan sebgai teladan, contoh, bahkan idola.

    Mungkinkah mata yang kecil ini harus melihat sesutu yang lebih besar dari apa yang seharusnya belum mereka lihat, mata yang seharusnya melihat keharmonisan mereka sebagai pasangan harus melihat mereka sebagai selingkuhan. Dan apadaya anugrah ini, melihat sesutu yang salah tapi tak bisa berbuat untuk sesuatu yang benar, dan itu semakin membuat tak berharga angurah ini.

    Mengejar kepuasan untuk diri mereka sendiri, tanpa mempedulikan masa depan anugrah ini, jangan kan masa depan, kebutuhan anugrah ini pun tak dipikirkan. Kebaikan, selalu saja menjadi alasan untuk mereka berbuat semaunya. Kebaikan yang mana? Kebaikan untuk siapa? Kebaikan untuk apa?. Anugrah ini tak perlu tercukupi dalam harta, makanan, maupun pakaian, atau apalah hal duniawi itu. Tak perlu. Cukup kasih sayang hanya kasih sayang.

    Untuk alasan apapun, terlalu picik jika mereka mengatasnakan cinta untuk mereka dapat melakukan hal yang memalukan dengan orang yang bukan pasangan mereka, melalukan hal yang menyakiti bagi pasangan mereka atau buah dari pasangan mereka. Apakah dengan mudah rasa cinta yang selama ini dipuji-puji beralih pada orang yang bukan pasanganya, apa janji suci ikrar pernikahan hanya sebuah hafalan? Sebuah liturgy yang harus diucapkan tapi tidak menjadi landasan dalam mereka mengarungi bahtera pernikahan.

    Tuhan… jagai setiapa anugrah-anugrah ini, supaya anugrah-anugrah ini tetap hidup kudus dijalan Mu, jangan biarkan anugrah ini termakan dunia yang menyesatkan ini, jangan biarkan kami lemah dan tergelincir dalam curang kegelapan karena kekecewaan kami atas mereka, tapi pakai anugrah ini menjadi alat Mu, walaupun, sesakit apapun rasa ini, anugrah ini tetap hidup benar didalam kasih Mu. Berat. Pasti tapi kami tau bahwa Tuhan mencintai setiap anugrah ini dengan cara Mu yang berbada, anugrah ini tau bahwa bahwa semua yang Tuhan berikan sesuai dengan porsi setiap anugrah ini, bukan melebihi kekuatan anugrah ini. Tuhan… anugrah ini tau bahwa Tuhan pasti siapkan masa depan yang indah untuk anugrah ini, masa depan yang sungguh ada untuk setiap anugrah ini. Dan Tuhan… ijinkan hanya  anugrah ini yang merasakan sakit ini, jangan samapai buah cinta dari anugrah ini juga merasakan apa yang anugrah ini rasakan, berilah anugrah ini pasangan yang lebih bertanggung jawab bagi keluarga kecil anugrah ini nantinya, berilah cinta kasih yang tulus dalam anugrah-anugrah ini dalam menjadi telan bagi buah cinta anugrah ini. Kesetiaan, ketulusan, keharmonisan, kepercayaan untuk senantiasa kami tanamankan dalam proses perjalan kami.

     Tuhan anugrah ini tau, bahwa Tuhan akan selalu disamping kami, mengerti, peduli, memperhatikan kami. Anugrah ini tau, bahwa hidup kami Tuhan pakai untuk menjadi cermin bagi orang lain, supaya orang lain kuat dalam menghadapi proses yang Tuhan berikan, karena anugrah ini pun kuat. Tapi sekuat apapun kami, anugrah ini perlu tangan Mu.. untuk menggemgam erat tangan ini, kaki Mu.. untuk melangkah bersama kaki ini, bahu Mu.. untuk kami bersandar dalam lelah perjalanan kami, mata Mu.. untuk selalu melihat kami supaya tak salah langkah, hembusan nafas Mu.. untuk selalu kami sadar bahwa Tuhan selalu ada disamping kami, telinga Mu.. untuk mendengar setiap doa harapan cita-cita kami, mulut Mu.. untuk memberikan semangat kepada kami, cinta Mu.. agar kami dapat bertahan setia kepada Tuhan sampai akhir, dan hati Mu... supaya kami tetap memberikan kasih ini. 

untuk: setiap anugrah yang hidupnya dipakai untuk diproses
#Tuhan mencintai mencintai mu dengan caraNya yang berbeda



Kamis, 28 Februari 2013

mendung tak hujan


  Pagi ini, matahari tak melakukan tugas seperti biasanya, sepertinya matahari ingin mengatakan bahwa matahari juga merasakan apa yang sedang bergejolak diperasaan ini. Mendung tapi tak hujan, seperti itu yang terasa. Mendung seperti rasa perasaan ini, dan hujan seperti air mata. Berat untuk mata ini menahan agar airnya tak jatuh, tapi perasaan yang harus kuat yang membuat air mata ini tertahan. Mendung tak berarti hujan, sepedih apa rasa ini, tak harus aku menangisinya. Toh tangis tak akan menyelesaikan masalah, tangis tak akan dapat mengembalikan waktu, dan tangis tak bisa membuat kepedihan ini menjadi kebahagiaan.
Untuk apa mempertahan sesuatu yang tak mau dipertahankan, menjaga sesuatu yang sudah tak bisa terjaga, memperhatikan apa yang sebenarnya tak perlu diperhatikan, memaafkan sesuatu yang tak mau dimaafkan. Tak perlu tangan itu digemgam jika tak ingin digemgam, masih banyak tangan yang memerlukan gemgaman tangan ini. 

  Seberapa besarkah arti cinta untuknya? Hingga kasih yang ku berikan tak kau pedulikan, seberapa pentingkah arti kehadiraanya? Hingga begitu mudah untuk mu tak mengangap bayanganku, seberapa berharganya tawa yang kauciptakan untuknya? Hingga setiap tetes air mata ini tak ada artinya, seberapa indahkah kenangan masa lalu itu? Hingga masa depan ku tak kau perjuangkan.

  Mungkin menurut mu aku tak pernah merasakan apa yang kau rasakan? Memang benar, kaupun juga tak merasakan apa yang aku rasakan. Kita sama-sama tak merasakan apa yang diri kita sendiri rasakan, itu sebabnya aku selalu menutupi setiap kepedihan ini, itu sebabnya aku menyembunyikan air mata ini, supaya kau tak merasakan apa yang aku rasakan. Bukan karna aku kuat, tapi karna aku ingin terlihat kuat didepan mu, bukan untuk menyombongkan diri ku, karna aku tak ada apa-apanya dengan mu, tapi hanya untuk mengatakan kepada mu bahwa aku  kuat tanpa dia. Aku tak ingin kau mengangap bahwa aku perlu dia, aku butuh dia, aku inginkan dia, bahkan aku lemah tanpa dia, sehingga kau pertahankan apa yang sebenarnya kita tak perlukan, kita tak butuhkan,  kita tak inginkan, dan kita lemah jika bersama dia.

  Waktu sudah menjadi saksi, walaupun waktu tak pernah memuji kehebatan mu, aku pun menjadi mengerti bahwa kau sangat hebat, walaupun mulut ku tak pernah mengeluarkan pujian itu. Tak perlu banyak mata yang menyaksikan ketangguhan mu, tak perlu banyak telingga yang mendengar semanggat mu, tak perlu banyak mulut yang mendorong mu untuk maju, karena waktu yang akan memberitakanya, cukup kita diam dan bergerak, dan ijinkan Tuhan yang  bekerja.

  Aku pasti akan kehilangan, pasti, walaupun selama ini aku tak pernah menganggapnya. Tapi aku akan mendapat kedaimaian, yang selama ini aku tak pernah merasakanya. Sorot mata mu mengatakan ini pasti sangat berat, walaupun ini bukan hal yang pertama untuk mu, dan itu yang selama ini menjadi alasan mu. bukankah malah lebih mudah jika kamu telah mengalaminya? Walaupun tetap pasti rasanya sakit, aku mengerti itu karena akupun sering merasakan sakit itu meski sudah berulangkali aku disakiti. Dan untuk apa kamu menahan kebahagiaan mu, untuk membahagiakanya?  waktupun mengerti bahwa dia tak bahagia bersamamu, lalu untuk apa?, harus dengan cara apa lagi aku menyadarkan mu dari mimpi mu, mimpi bahwa nantinya  kita dan dia akan bahagia? Itu mimpi, dan aku ingin membagunkanmu karena kita hidup di dunia yang nyata, bukan  didunia mimpi.

  Dan akhirnya pagi ini dengan mendungnya perasaan yang kurasakan, dan kuatnya mata ini untuk menahan airnya,  aku dan waktu, mendengar keikhlasan mu, bukan untuk ku, tapi untuk mu. ada sesutu yang harus diperjuangkan dan dikorbankan, butuh keberanian dan kesiapan untuk menggapai apa yang kita inginkan. 

valday


  14 febuari 2009.Hari, tanggal dan tahun yang tak akan pernah terlupakan  untuk ku. Jika Tuhan mengijinkan aku untuk tidur selama 24 jam, aku menginginkan  disetiap tanggal itu aku tak terbagun. Bagaimanapun yang namanya masa lalu memang lebih dalam, dan sedalam itu rasa sakit yang sampai sekarang harus aku bawa, seberapa jauh aku berlari bayangan itu selalu mengikuti. Awal mula dimana aku tak percaya lagi  dengan yang namanya kasih sayang, tak percaya lagi dengan namanya sebuah cinta.

  Gelap, itu yang terasa, benci itu yang tertanam. Bahkan sampai sekarang tak ada satu orangpun, termasuk kamu, yang dapat membuat ku berhenti berfikir, bahwa anggapan orang tentang hari itu adalah hari kasih sayang,  adalah salah. Datang lalu pergi, di bulan itu adalah hal yang sangat biasa untuk ku, dikhianati dan kecewa pun  juga hal yang sangat biasa untuk ku, mungkin memang karena selama ini sudah terlalu biasa menghadapi hal-hal yang seperti itu. jadi yang namanya waktu tidak  akan pernah bisa mengobati rasa sakit, namun waktu hanya bisa membiasakan menghadapi rasa sakit.

  Kamu, yang aku anggap dapat memberikan terang itu pun ternyata juga sama saja, namun bukan kamu yang salah, bukan waktu juga yang salah, tapi hanya aku yang salah karena membuka hati untuk waktu yang belum ada namanya. Aku tak pernah bisa memaksa mu untuk juga membuka hati mu agar dapat aku tinggal didalamnya, begitu juga sebaliknya kamu tak akan pernah bisa memaksa ku untuk mengeluarkan mu yang sudah terlanjur masuk kedalam hati ku. Biarkan waktu yang memprosesnya, seperti waktu memproses rasa yang dulu tak pernah aku rasakan terhadap mu, namun kini rasa terhadap mu bersemayam dengan nyamanya dipikiran dan perasaan ku. Biarkan aku menikmati ini, sampai aku lelah, dan jangan paksa aku untuk berhenti karena aku masih kuat. Dan aku pun akan membiarkan mu untuk menikmati apa yang ingin kamu nikmati, untuk merasakan apa yang kamu ingin rasakan, untuk melakukan apa yang kamu ingin lakukan , dan untuk memilih apa yang menurut mu benar dan terbaik untuk mu sendiri.

  Aku tau aku bukan pilihan mu, aku pun tak memaksa untuk kamu pilih, karena terlalau banyak yang istimewa untuk mu, dan aku terlalu sangat biasa untuk mu, tak masalah bagi ku asal aku tak kamu anggap sama dengan mereka yang kamu anggap istimewa. Maka dari itu biarkanlah aku sampai waktu kembali memproses ku menikmati segala perasaan ini. Walaupun aku tau setiap proses yang harus aku jalani tak pernah sebentar untuk ku, melainkan lama. Proses ini, tak semudah waktu kamu tau nama ku dan aku tau nama mu, tapi sesulit aku berusaha melupakan nama mu, semakin aku berusaha melupakan mu, semakin dalam pula ingatan ku akan kamu. Proses  aku membersihkan hati, proses aku menutup hati, membuka hati, bahkan proses aku membiarkan mu masuk, itu pun juga tak sebentar seperti halnya menunggu. Seperti proses, menunggu juga tak pernah ada yang tau ujungnya. Dan kamu tau bahwa menunggu itu hebat, tapi apa kamu mengerti bagaimana rasanya menunggu itu? Dan aku kembali memutuskan menunggu sampai Tuhan berkata kepada waktu dan waktu membisikanya kepada ku “ini kunci untuk mengeluarkanya dari hati mu”.

  Jika aku boleh egois, jika aku boleh memohon, jika aku boleh meminta,  aku tak pernah ingin mendengar waktu membisikan itu untuk ku, tapi aku ingin mendengar waktu membisikan kepada ku dan juga kepada mu “ini waktu bahagia untuk kalian”, tapi aku tak ingin egois, melainkan aku  memilih munafik  karena aku ingin yang terbaik untuk mu. aku  dan kamu itu bukan doa ku, tapi kamu akan selalu ada dalam doa ku.

#aku selalu percaya kamu adalah terang ku, suatu saat nanti
 dan kekurangan mu adalah kelebihan ku, tuan sempurna, miss u boss

Jumat, 18 Januari 2013

soulmate



Malam yang penuh bintang, yang biasanya aku lewatkan dengan  duduk didepan rumah memandangi indahnya langit yang bercahaya, harus aku lewatkan untuk latihan music bersama teman-teman, tapi gak kalah  menyenangkanya juga, hehe. Sebenarnya gak cuma latihan sih, tapi juga buat ajang ngumpul bareng temen-temen yang udah mulai sibuk sendiri-sendiri, dan percaya deh itu gak pernah ada ruginya, bisa curhat, ngosip..upss, njahili temen atau berlomba-lomba men”stand up” ,  untuk apalagi kalau bukan untuk ditertawakan sekaligus menertawakan diri sendiri,haha..  buat aku itu bukan suatu masalah asal semua bisa senang dan tertawa lepas. Walaupun  masih sakit karena patah hati, buat aku, bukan berarti kaki juga ikut patah, “hati patah, kaki melangkah”, owuh cie..cie., jadi tetep hidup harus tetep berjalan.
Dan setelah berhaha-hihi aku memutuskan untuk mampir diwarnet sebentar, karena ada tugas sekolah yang harus dikerjakan. “Sekali dayung dua pulau terlampaui”?  atau “sambil menyelam minun air”?, hehe yang pas pepatahnya yang mana ya? karena aku gak cuma cari tugas tapi juga cek-cek status facebook. Sebagai seorang remaja yang dituntut harus mengikuti perkembangan zaman cieh.., jadi mau gak mau ya harus diikuti, bukan hanya karena trand atau gak mau dibilang “katrok”, tapi karena banyak manfaat yang aku dapet dari perkembangan zaman yang sedang terjadi, salah satunya adalah berkembangnya jejaring social. Dan yang lagi marak sekarang adalah fb atau facebook.  Karena sudah lama gak buka fb rasanay kangen…, kangen dengan teman-teman lama, teman-teman yang jauh diantah-berantah, yah sekedar pengen tau aja gimana kabar teman-teman, dan pengen tau banget pada lagi ngegalauin apa’an, hehehe. Banyak juga pemberitahuan difb ku, dari mulai pertemana, tag foto, tag status, sampai pemberitahuan diinbox. Mulai deh buka satu-satu, ternyata ada beberapa inbox dari temen-temen  ku, yang nanyain kabar ku gimana, sekolah ku dimana, atau sekedar say hallo, tapi ada juga inbox dari temen ku yang tadi habis latihan sama aku, dia bilang kenapa facebooknya gak aku konfim-konfrim, hehe knapa juga tadi ketemu pas  latihan gak bilang, dasar rempong. Lagi asyk-asyknya berfb’an ada sms masuk dan ternyata dari temen ku yang barusan aku critain itu lo, yang fb’nya gak aku konfrim-konfrim, haha merasa bersalah.  Dan  lagi-lagi aku suruh konfrim fbnya dia, oh ya namanya Dion. Ya udahlah ya, karena udah dua bulan juga ngantri dipertemanan ku, dan karena aku juga gak enak hati jadilah aku setujui pertemanan, dari fb yang bernic-name Dionisius Anggara Wiraja, puas??. Itu awal pertemanan ku dengan Dion, sebenenarnya aku dan dion sudah saling tau, sejak kecil malah. Yah walaupun sejak kecil aku tau, tapi aku dan Dion gak pernah ngobrol, gak pernah main bareng. Dan setelah aku kenal Dion,  ternyata Dion itu asyk dan gila, tapi tetep gak bisa ngalahin kegilaan ku. Kalau cuma tau aja pasti pada  ngira Dion itu cool tapi kalau udah kenal, bakalan tau juga sih kalau Dion itu emang cool…..LLii..(baca kuli) tepatnya, hehe. Aku dan Dion jadi lebih dekat, jadi sering main, ngobrol bareng.
 Aku hanya menganggap kedekatan ku selama ini dengan Dion hanya sekedar teman, just best friends, nothing special. Tapi aku salah, dua bulan aku sering cerita tentang keadaan hati ku yang sedang sakit, ternyata dua bulan itu juga aku menyakiti hatinya. Jujur memang aku gak peka, tapi saat Dion mulai men”status’’kan kekecewaannya, aku baru sadar, dan bukanya trus ke”PD”an tapi aku trus langsung minta penjelasanya, dan yah..aku dapat pengakuan itu darinya, sekaligus permintaanya untuk melanjutkan hubungan kita yang dari teman biasa menjadi teman dekat. Kaget …itu yang aku rasain, gak nyangka Dion bakal ngomong ini semua, dan salah atau bener, ada sedikit perasaan kecewa ku pada Dion.  Aku  gak bisa untuk jadi teman dekatnya, karena aku gak mau memberikan harapan palsu,” lebih baik aku menolak orang yang menyayangi ku, daripada aku menerima orang yang menyayangi ku dengan keadaan hati ku yang masih sakit dan belum siap, aku lebih memilih menyembuhkan hati ku baru menerimanya, karena aku gak ingin menyakiti orang itu, dan  menyembuhkan hati bukan hanya memerlukan  waktu yang singkat tapi sebaliknya, dan saat hati ku sudah sembuh dan siap, tapi orang itu sudah menemukan hati lain, itu adalah konsekuensi dari apa yang aku pilih”, itu alasan  kenapa aku gak bisa jadi teman dekat Dion, dan Dion menunjukan bahwa Dion menerimanya. Tanpa sepengetahuan Dion, sebenernya bukan cuma itu alasan ku, tapi ada satu alasan yang gak bisa aku katakana kepada Dion,  yaitu aku gak mau menyakiti lebih dari dua hati. Cukup  satu hati ku yang sakit karena mengecewakan Dion, dan satu hati Dion, karena aku gak bisa menjadi teman dekatnya. Bukannya satu hati lagi, hati Anda, adik ku yang ternyata  memiliki rasa terhadap Dion.
Suprot da usaha ku gak pernah padam untuk Anda bisa dekat dengan Dion. Tapi  yang terjadi aku dan Dion malah semakin dekat, sekaligus sakit hati ku yang mulai sembuh, oh..God.  Apapun   yang aku lakuin seakan-akan gak pernah benar, selalu aku merasa salah untuk Dion, dan selalau aku merasa salah untuk Anda.  Dan  hidup adalah pilihan, aku lebih memilih munafik daripada egois, munafik.. karena aku gak bisa bilang sama Dion bahwa, ternyata setelah enam bulan ini aku mulai merasa apa yang Dion rasakan,huhftt.. sekaligus aku gak memilih egois, karena aku gak mau menyakiti Anda, yang lebih aku sayangi daripada Dion.
Akhirnya Anda mencium sesuatu yang gak beres antara aku dan Dion, dan Anda ingin berbicara dengan aku dan Dion, sumpah deg-degan banget. Aku berusaha untuk menenangka  Anda, Dion’pun aku minta untuk membantu ku  menenangkan Anda yang dari tadi gak berhenti menangis, ya Tuhan gak enak banget rasanya. Parah…, aku kira Dion bakal bisa aku ajak sekongkol untuk gak membicarakan apa yang terjadi antara kita, walaupun memang gak terjadi apa-apa, tapi aku gak mau kalau sampai Dion ngomong bahwa Dion sempat meminta ku untuk menjadi teman dekat Dion, aku g mau nyakitin Anda.  Sebaliknya  Dion menceritakan semua apa yang dirasakan terhadap ku, tambahlah anda menangis.  Namun akhirnya aku dan Dion bisa menenagkanya, sekaligus Dion ngomong sama anda bahwa Dion ingin focus dengan pekerjaanya.
Semuanya berjalan dengan perasaan ku yang gak bisa tenang, aku butuh setatus yang jelas dengan Dion, aku gak mau terus-terusan diberi harapan palsu, aku gak bisa terus-terusan membohongi Anda yang walaupun sekarang sudah bahagia dengan pacarnya. Setelah aku berdoa untuk menenagkan dan mempersiapkan hati ku, akupun memberanikan diri bertanya pada Dion tentang status kedekatan kita yang sudah satu tahun lebih ini. “menurut mu, aku ini apa buat kamu?”, “kamu itu soulmate ku Melody, lebih dari teman, lebih dari pacar, lebih dari saudara, dan selamanya akan menjadi soulmate ku”. Soulmate… itu jawaban dari semua yang aku rasain selama ini, selama ini aku terlelap karna menangis dan selama ini aku terbangun karena memikirkanya. Kecewa?? Tidak, karena aku soulmatenya, yang kapanpun Dion datang aku selalau ada, baik saat Dion senang maupun  sedih, yang mendengarkan saat Dion menangis dan juga tertawa, yang selalau ada saat Dion membutuhkan ku atau tidak membutuhkanku, dan yang selalu berdoa untuk yang terbaik untuk  Dion. Lega….