Rabu, 18 Mei 2016

kesan

kesan lebih kuat dari hal nya pengertian ,
dan..
tidak ada kesempatan kedua untuk menciptakan nya.
mereka yang dekat terbiasa dengan mesra sekaligus mereka yang jauh seharusnya sangat mesra.
lalu bagimana dengan dua anak manusia ini;
yang terpisah badan,
yang terpisah waktu
dan terpisah jarak
mereka yang sama sama terkesan.
namun tak ayal ada yang berkesan.
mereka yang berusaha mendekatkan.
namun tak bisa bersentuhan.
mungkinkah kesan mampu memberi arti lain..
atau mungkin ada yang lain yang ditemui di persimpangan yang dapat memberikan kesan.

cukup.

jangan tanya
simpan saja..
karena semua jawaban terkadang melelahkan untuk didengar.
lebih baik lihat saja karena melihat tak butuh tenaga extra..
dan; terlebih lagi jangan meminta untuk dipertanyakan,
karena jawaban jawaban itu sangat terlihat..
sebelum, pertanyaan demi pertanyaan yang melelahkan akan menghujam.
cukup. lihat saja

Rabu, 01 Oktober 2014

ketika



Semua rasa ini hanya berlandaskan cinta dan ketulusan, aku berharap tak ada rasa sakit.
Meski aku tau untuk semua yang bernama jatuh pasti akan ada nama sakit didalamnya.Namun di dalam sakit ku pun aku masih percaya bahwa ini merupakan pelajaran untuk membuat lebih kuat
Namun, aku tak pernah sadar untuk rasa ini yang aku simpan ternyata menimbulkan penyakit
Iya penyakit untuk hati ku sendiri.

Aku masih yakin itu akan membuat ku kuat, tapi tak sekuat yang kamu bayangkan.

Aku harus menuliskanya lagi, saat tak ada telingga yang mau menerima bisikan ku, karena trnyata hati ku juga sudah tak mau menyimpannya lagi.
Terkadang pikiran itu mengusik ku , "menjaga hati atau mendengarkan kata hati"

Dan terkadang aku berkata pada sebuah hati ini, kenapa selalu meberiku pilihan yang teramat sulit.

Di suatu ketika
Aku mendengarnya berkata “ mungkin dia belum bisa melupakan masa indah yg pernah dia lalui waktu itu, dan dia berharap masih bisa mewujudkan mimpinya bersama dia yang selalu ada dihatinya. Dan kamu.. kamu hanyalah pengisi untuk hari hari nya , bukan hati nya. Karena dia kosong dia mengijinkan mu mengisinya. Tidak lebih dari itu”
Harus berapa puluh orang lagi yang mengatakan hal yang sama untuk membuat ku sadar akan hal itu?.

Aku tak pernah bisa menjawab nya dan seperti mu yang “tak ingin”, aku juga tak ingin menjawab nya atau bahkan mencari jawabanya, karna aku terlalu percaya pada waktu
Atau perkataan yang selalu aku jawab dengan senyuman “ apa rasa mu membuat mu sudah tak bisa lagi merasakan sakit hati?”
Sekali lagi harus keberapa ratus orang aku memberikan senyum ku untuk pertanyaan yang sama.

Aku bersyukur dan teramat bersyukur “ketika” sang pemilik waktu mengijinkan kita bertemu, hingga wakyu menjadi sahabat setia ku menemani dalam penantian
“Penantian? Hingga sampai kapan kamu mau menjadi seorang penanti yang buta, bahwa yang kamu nantkan tak mengaharapkan mu, menjadi seorang penanti yang tuli bahwa rintihan suara yang menanti mu, ahruskah kau sebuta dan setuli itu?”
 Dan beribu suara dengan menyurakan suara yang sama, aku hanya bisa diam. Diam dan berdoa andai kamu mendengarnya, aku tak akan sebuta dan setuli ini.

Bahkan saat aku memilih setia, tak membukakan hati, membuaka telinga, mata dan ksempatan untuk orang lain. Bukan sesuatu hal yang mudah untuk sebaliknya yang aku terima, tapi aku menjalaninya dengan ikhlas. hanya itu 
Coba tanyakan siapaun yang bernama perempuan, pasti semua menjawab tak ada yang tak ingin dicintai, diperjuangkan, diusahakan, begitu pula aku, tapi aku menolaknya, karna aku memilih dari mu. "bodoh", mungkin, tapi aku tak pernah menyesalinya, menyesali apa yang akhirnya membuat mereka mengatakan bahakan menganggap ku seperti itu.

Jika aku keterlaluan menjaga mu aku percaya kamu tak akan seketerlaluan untuk hal sebaliknya.
Meski di tempat mana aku menabur belum tentu aku menuai di tempat yang sama, meski secara logika harusnya seperti itu bukan


Untuk seketika
Aku memberanika diri melawan panas dan menari bersama hujan, aku tak merasakan kulit ku terbakar ketika aku harus berjalan menghampiri mu. Atau aku tak bisa merasakan rasa sakit rintik hujan yang menusuk kulit ku saat aku harus berlari menjumpai mu. Karna aku tak ingin kamu merasakan apa itu menunggu, dan tak pernah aku ingin kamu tau apa itu arti menunggu.

Aku tak akan menjelaskanya atau menuliskanya bahkan tak pernah berharap kamu merasakanya. Cukup aku

Aku mampu memahami semua kata mu, untuk membawanya dalam mimpi. Mimpi  kita, kata mu.
Namun  tekadang di waktu tertentu aku terisak, bahwa aku berada di realita dan bukan mimpi.

Aku mampu mempertahankan dan memperjuangkan ini bukan semata mata untuk apa yang mereka katakan dan untuk apa yang mereka tak ingin dengar. aku mealangkah dengan apa yang membuat ku merasa lebih baik, yaitu kamu

Klise? terserah, tapi aku tak akan mempertahankan untuk apa yang membuat ku jauh menjadi seseorang yang lebih buruk, aku berjalan kedepan karna di jalan sebelumnya aku mendapat yang baik dan aku trus berjalan karna aku percaya bahwa akan menjadi lebih baik lagi. dan di jaan ku itu selalu ada kamu
meski bukan kehadiran mu, meski hanya sosok mu itu cukup membuat ku merasa lebih baik.

Hingga di ketika ini
Aku terlalu pengecut untuk bertanya lebih tentang kamu, rasa mu.
Bertanya tentang ku, arti ku untuk mu. Setuli apa aku untuk suara mereka aku masih bisa mendengar kenyataan yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar untuk ku.
Sebuta aku untuk keberadaan mereka. Aku masih bisa melihat bahwa tak aku di hati mu.
Aku hanya ingin itu. Tak melihat juga mendengar, tapi merasakan kesungguhan mu, keyakinan mu.
Bahwa kamu pantas untuk selalu ku sebut dalam pagi hingga malam saat aku berbincang dengan dengan Nya.

Aku tau terlalu menyakit kan jika aku berkata ini dan itu, seolah aku mendekte mu untuk menjadi yang seperti ku mau, sedangkan aku bertahan hingga saat ini karna aku bisa menerima mu dengan segala kekurangan dan juga kelebihan yang menempel sekaligus melengkapi ku.

Tapi jujur aku lelah untuk menenangkan semua terikan ini, untuk menyekapnya. Karna aku takut di suatu ketika terikan ini terlepas tanpa terkendali, aku tak ingin itu. aku ingin benar benar dan benar tuli baik pendengaran ku maupun telinga ku, aku tak igin mendengarnya, bahkan ikut merasaknnya, karna percayalah. itu tak mudah.

Tak mudah menyerahkan segala nya untuk mu, tapi aku sadar aku melakukanya, bahkan tak aku selali. karna kamu tau, aku percaya kamu bisa menjaga ku bersama kepercayaan yang telah sepenuhnya aku berikan.

Dan itu hanya karna aku ingi memberikan yang terbaik, yang ingin aku berikan agar kamu bahagia, hanya itu. tapi jika percaya ku kau buang, tak apa. aku belajar dari yang aku terima, dari kamu dan untuk mu.

Sampai seketika nanti aku berkata
“jika aku sudah menutup pintu ini, dan kamu baru menyadari bahwa aku sudah tak bisa membukanya, itu bukan resiko mu tapi resiko ku, karna aku yang memilih. Seperti
Ketika berhari hari aku selalu berdiri di depan pintu yang aku buka lebar dan kamu tak pernah menyadari untuk melihat ku disni, itu bukan merupakan resiko mu tapi resiko, karna aku yang memilih untuk seperti ini. Menanti.”

Bahkan untuk pintu yang selalu aku buka sampai nanti dan kamu masih sama, tak mau melihat ku. Itu juga merupakan pilihan ku untuk menerima resiko ku.

Aku juga ingin kamu mengambil resiko untuk ku, meski aku tak tau apa arti resiko untuk mu. Meski aku mungkin tak sepaham untuk apa arti perjuangn dan usaha menurut mu.

Bahkan ketika

Semua orang berkata kita berbeda, dan tak bisa menjadi satu, tapi aku selalu berkata pada mu dengan yakin “karna perbedaan ini yang akan menjadikan satu”.

Alasan ku? Hanya doa ku. Dan tak ada yang bisa memaksa ku, termasuk kamu,.
Aku menyimpanya rapat serapat ini, sampai aku sendiri kehilangan alasan yang aku simpan, hingga tak bisa menjawabnya. mungkin itu yang tepat, entahlah.

Bukan karna mengagumi, yang seperti orang orang akui tentang mu, meski  aku juga mengakuinya untuk apa yang melekat pada mu, kharisma. Bukan pula pelampiasan, karna menurut ku tak perlu ada alasan untuk kata itu , dari apa dan dari siapa. Tak ada.

Dan hingga sampai disaat ini, di waktu ini aku tak ingin mengatakan apapun, bercerita apapun, menyimpulkan apapun atau menuliskan apapun, apapun tentang aku.
Aku hanya masih ingin diam dalam doa untuk suatu ketika yang akan menjadi nyata bukan mimpi atau bayangan.

yang terbaik untuk apapun, untuk yang bernama suatu ketika nanti

Sabtu, 23 November 2013

beda



Aku sering menyebutnya “beda”. Aku sering menjelaskanya “tak sama”. Beda dan tak sama, itu aku dan kamu. Tak sama dan beda, itulah kita. Jika memang berbeda kenapa menjadi kita? Bukankah aku dan kamu menyatu menjadi kita  karena ada kesamaan? Lalu? Kenapa?. Aku yakin kamu juga sering bertanya dalam hati mu, aku juga sering bertanya dalam hati ku. Mungkin ini yang menjadi kita. Sama-sama bertanya dalam hati kita. Aneh 

Apa yang sering kamu tanyakan pada Tuhan mu, apa iya sama, dengan apa yang sering aku tanyakan pada Tuhan ku?. Kamu bertanya apa? Kamu bertanya kenapa ada berbedaan?, aku juga bertanya seperti itu. Kamu bertanya kenapa dipertemukan dengan ku?, sama aku juga menanyakan itu. Kamu bertanya dengan cara apa agar berbedaan ku dan berbedaan mu bisa disatukan?, aku juga. Lalu, kamu sudah mendapatkan jawaban?, aku juga belum mendapat jawaban dari Tuhan ku. Atau mungkin kita harus bertanya pada Tuhan yang sama?, tapi semua orang tahu bahwa Tuhan kita beda. Jujur aku sendiri tak yakin jika Tuhan kita berbeda. Kita sama-sama manusia yang lengkap dengan segala acecoris yang menempel dalam hidup kita, kita sama, kita manusia, memiliki mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, tubuh, dan hati. Bukankah berarti pencipta kita juga ada satu? Tuhan maksud ku. Cobalah berfikir sejenak untuk hal ini. Benarkan? Tuhan itu Cuma ada satu, jalan kita yang tidak hanya satu. Lagi-lagi kenapa harus ada jalan yang berbeda. Beda..beda..beda..

Apa kamu lelah? Aku juga. Tapi anugrah ini yang membuat ku kuat. Kita sudah terlalu jauh berjalan, tapi juga tak menemukan ujung jalan ini, ah jangankan menemukan melihatnya pun aku belum. Diujung yang mana kita bisa menjadi satu?. Diujung kiri? Atau diujung kanan? Jika ujungnya dikiri maukah kamu melompat kesini? Aku yakin itu membutuhkan tenaga yang ekstra. Dan jika ujungnya dikanan? Aku sendiri tak yakin apa aku bisa melompati tembok tinggi itu. Kenapa tak kita robohkan saja tembok itu? Aku ingin merobohkanya, apa kamu tau caranya? Tapi tembok itu terlalu kuat, terlalu tinggi, aku pesimis jika kita hanya berdua saja akan bisa merobohkanya, tapi hanya kita berdua yang membutuhkan itu. Aku juga tak mau memaksa menarik mu berada dijalan ku, aku takut tangan mu sakit dan terluka. Kamu juga tak bisa menarik ku ke jalan mu, karena aku juga tak mau sedih dan menangis. Apakah yang menyangkut kepercayaan bisa terselesaikan dengan pemikiran. Imposible

Coba kita bertanya pada Tuhan yang sama




kamu, pelengkap kita



Masih dicerita yang sama, dan masih dikesempatan yang sama. Kesempatan tidak datang untuk kesekian kali. Bukan hanya dua atau tiga bahkan empat. Entahlah. Bukan aku menyerah, sampai saat ini, saat hanya jarak yang begitu nyata yang bisa aku lihat. Aku masih menunggu mu. Aku masih menanti mu. Untuk kembali menjadi kita. Meski sampai dengan jarak yang tak bisa ku lihat lagi, aku tak tahu apa kamu juga seperti ku. Menunggu ku. Menanti ku. Untuk menjadi kita lagi

Meski semua sudah terlihat dan terlalu mudah untuk dibaca, tanpa ada kata, aku tau apa yang terjadi bahkan apa yang kamu rasa meski kamu terlalu sungkan untuk mengatakanya. Aku hanya bisa menerima. Menerima semua kenyataan yang tak bisa ku hindari. Kenyataan yang menyakitkan tapi yang sekaligus menjadikan kuat. Benarkan bukan aku yang kuat, tapi kamu yang menjadikan ku kuat. Kamu yang hebat, dan terhebat 

Tanpa aku katakan bahwa ini berat untuk ku, aku tau kamu pasti mengerti. Siapa perempuan yang ingin kisahnya seperti ini, tak ada. Aku juga. Tak mau. Tapi sekali lagi, aku hanya bisa menerima. Menerima keputusan mu. Bukan aku tak punya pendirian, aku hanya ingin tau sebagai seorang laki-laki kamu akan bersikap apa. Bukankah seorang laki-laki pada akhirnya harus menjadi pemimpin dalam keluarganya? Dan harus memiliki sikap sebagai seorang pemimpin yang bertanggungjawab, aku hanya ingin melihatnya dari mu, meski itu terlalu jauh, tapi bukankah hidup kita pastinya akan melangkah kedepan. Atau mungkin kebelakang?. Dan cukup aku tau. Aku tak bisa marah, kamu sadar itu, aku hanya kembali lagi bersabar. Jika ini keputusan mu, ingin mu, dan mau mu, aku menghargai mu. Jika kamu ingin diam aku juga akan diam. Aku mengikuti mu. Sebagai perempuan.

Aku tak ingin ini, percayalah aku tak ingin ini. Tak ingin seperti ini. Tak ingin berdiam seperti ini, tak ingin tak ada kabar seperti ini. Tak ingin tak ada perjumpaan seperti ini. Aku tak ingin ini, tak ingin tak ada untuk mu saat banyak hal yang harus kamu lewati, aku ingin ada bersama mu, melewati banyak hal bersama mu. Aku tak ingin, tak ingin melewati banyak hal yang kamu harus lewati sendiri, meski aku yakin kamu bisa, meski aku juga harus tau bahwa kamu tak inginkan aku, aku ingin saat ini ada untuk mu. Begitu juga dengan ku, entah kamu menginnginkanya atau tidak aku ingin kita. Untuk saat terbesar ku, aku ingin melewatkanya bersama mu, membagikanya dengan mu. Untuk saat terberat ku, aku butuh  suara mu sebagai semangat ku, aku perlu tatapan mu yang menenangkan ku, tangan mu yang menggenggam ku, peluk mu yang menghangatkan ku, juga butuh kaki ku untuk aku menyadari bahwa aku tak sendiri untuk melewati ini. Tapi jika yang aku inginkan tak bisa aku dapatkan, biarkan aku meminjam bayangan mu untuk memotivasi ku bahwa aku juga bisa melewati proses ku, dan berterimakasih pada mu, karena meminjamkanku sosok mu yang telah membuat ku berhasil meraih impian ku

Jika kamu ingin satu jangan ambil dua, karena ganjil menglengkapi dan genap adalah bencana. Seperti kamu, aku juga. Lelah untuk membahas ini. Bukan aku tak mengerti, percayalah aku sangat mengerti. Bukan aku juga tak paham, aku sangat paham, jika kamu berkata itu hanya teman. Hanya saja, aku punya alasan kenapa aku tak pernah bisa mengerti dengan apa yang kamu ucapkan, karena ternyata semua berbeda dengan apa yang kamu perlihatkan. Aku tak menyalahkan mu, karena aku yang salah. Salah karena tak bisa mengerti. Salah karena ternyata aku hanya membuat mu lelah. Salah karena ternyata aku pada akhirnya hanya membuat mu kesal.

            Maaf. Aku kira kehadiran ku bisa membuat mu sedikit bernafas  meski banyak tanggungjawab yang membuat mu sesak. Aku kira tawa ku bisa menghibur mu saat kamu sedih. Aku kira bahu ku bisa membantu mu meringankan kelelahan mu. Aku kira peluk ku bias menghangatkan mu, saat kamu menggigil karena rutinitas mu yang padat. Aku kira telingga ku bisa menjadi pendengar yang baik untuk sekedar mendengarkan keluh dan warna hari mu. Aku kira mulut ku bisa menguatkan mu untuk segala masalah yang membuat mu resah. Aku kira mata ku bisa menyalurkan semangat untuk mu saat kekhawatiran menginginkan mu jatuh.  Aku kira genggaman tangan ku bisa sekedar mengingatkan mu bahwa aku ada disini. Aku kira kedua kaki ku juga membuat mengerti bahwa kamu tak pernah sendiri . dan aku kira rasa ku bisa membuat mu yakin bahwa aku tak pernah ingin mengakhiri ini semua. Maaf, karena aku hanya memakai pemikiran ku, tanpa bertanya. Tapi lebih dari yang kamu tulis aku tau seperti apa arti hadir ku untuk mu

Tak mudah, tapi mungkin juga tak sulit, yang biasa merubah ku menjadi kebiasaan. Walau orang hanya melihatnya seperti hal biasa, tapi aku mengartikanya menjadi luar biasa. Pertemuan kita yang terkalahkan oleh mereka yang berjarak. Komunikasi kita yang terkalahkan oleh mereka yang terpisah. Aku dengar banyak orang yang bilang bahwa ini tak baik. Tapi aku bisa, meski sulit. Tapi aku baik-baik saja, meski harus menahan rasa rindu. Dan kamulah yang membuat ku bertahan, dan keyakinan ku akan kamulah yang membuat ku dengan baik melewati ini, meski banyak orang diluar sana yang meragukan, bahkan meramalkan akan berakhir seperti apa kisah kita. Dan disaat seperti itu, saat banyak kata yang menyakitkan untuk aku dengar, saat banyak kata yang ingin aku keluarkan untuk membuat mereka paham, aku hanya bisa diam. Diam. Dan dalam hati aku berdoa, andai kamu ada disini, bersama ku, pasti mereka yakin bahwa ini semua bukan permainan.

Meski aku hanya ingin kita, aku tak bias memaksanya. Aku terlalu ikhlas untuk semua kepergiaan yang harus aku relakan. Bukan aku tak berusaha menahannya, tapi aku hanya manusia yang sama seperti mu, yang hanya berperan tanpa harus memilih peran. Bukan aku yang memebuat ceritanya seperti ini, namun aku sadar jika semua telah menjadi seperti ini. Jika aku diberi satu kesempatan, aku hanya ingin memiliki kesempatan selalu ada untuk mu, hanya itu. Seperti saat ini saat aku tak memiliki kesempatan itu, saat aku tak bisa ada untuk mu, aku hanya diberikan kesempatan untuk selalu membawa nama mu dalam daftar permohonan ku. Dan aku hanya memohon, untuk Tuhan selalu ada untuk mu, meski aku tak ada. Jika waktu juga memberikan pilihan, untuk ku bisa kembali bersama mu atau untuk ku bisa selalu ada untuk mu, aku memilih itu. Meski tak ada kita yang aku inginkan. Aku hanya mau itu. Selalu ada untuk mu. Entah saat kamu membutuhkan ku atau tidak. Hanya itu

Untuk mu yang membawa kunci hati ku, aku tau aku tak bisa memohon mu untuk terus-menerus memeberi ku kesempatan, karena itu hanya akan mengganggumu, menambah beban mu. Aku harus mengerti dan aku harus berusaha mengerti untuk tak terus menerus merengengek-rengek meminta mu  kembali bersama ku, melewati waktu dengan impian dan cita-cita kita. Meski aku ingin itu. Tapi aku yakin Tuhan lebih menginginkan kita untuk bersama lagi menjadi kita, saat aku dan kamu bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Saat aku dan kamu lebih bisa menerima dengan ikhlas berjalan bersama waktu. Dan aku percaya saat Tuhan memberikan rasa ini untuk ku, dan saat aku yakin dengan rasa ku, aku harus yakin menantang diri ku, untuk apa yang bernama waktu, untuk apa yang bernama jarak, dan untuk apa yang bernama kesempatan aku bisa menunjukanya. Termasuk rasa aku bisa mengorbankanya. Karena sekali lagi percayalah keyakinan ku lebih besar dari itu semua. Bahwa ada saatNya, ada hariNya, ada waktuNya, ada tempatNya aku dan kamu bisa selamanya menjadi kita

Aku memilih satu, yaitu kamu sebagai pelengkap ku untuk menjadi kita

Kamis, 10 Oktober 2013

Distance

Jarak. Hanya lima huruf, satu kata  tapi bermakna bepuluh-puluh kata. Jarak, ya hanya jarak, yang hanya akan menjadi jarak,  tapi tak hanya terdapat satu rasa melainkan terdapat berjuta rasa didalamnya. Jarak hanyalah sebuah jarak, dan jarak hanya akan tetap menjadi jarak, selamanya- jika aku dan kamu tak mengubah jarak, atau menjaga jarak. Jarak memang bisa membuat yang dekat menjadi jauh dan sebaliknya yang jauh menjadi dekat. Tapi aku memilih yang jauh menjadi dekat, bukankah kamu juga seperti aku?

Semua akan tetap sama. Pagi ku dengan suara serak mu, siang ku dengan perhatian mu, dan malam ku dengan ucapan “selamat bertemu dimimpi sayang ku”. Tak ada yang berbeda, tak ada. Hanya aku harus kuat untuk terus membayangkan wajah kacau mu dipagi hari, harus menahan sosok mu yang mengkhawatirkan ku akan pola makan ku dalam benak ku, dan aku tak pernah ingin bangun ketika aku bisa melihat mu meski hanya dalam mimpi. Aku yakin aku bisa. Kita telah melewati ini, jurang ini, tidak mudah. Tapi kita bisa sayang. Dan aku yakin kita juga bisa melewati jarak ini. Iya aku yakin. Waktu telah menjadi saksi kisah panjang kita, dan sekali lagi waktu yang akan melihat perjuangan kita.

Aku hanya perlu waktu. Perlu berteman dengan waktu, meski aku tak ingin. Aku hanya perlu waktu. Perlu bersahabat dengan waktu agar aku terbiasa. Seharian bersama mu, meski hanya sekedar duduk berdua, bergelayut manja, atau pergi untuk sekedar berkeliling kota menikmati malam yang dingin, tapi begitu terasa  sangat menghangatkan untuk ku karena bisa memeluk  tubuh mu.  aku perlu waktu untuk membiasakan sehari ku tanpa tangan kuat mu, senyum konyol mu, dan nyamanya bahu mu. aku perlu waktu untuk tak mengaharpkan mu tiba-tiba datang didepan pintu memebawa coklat atau ice cream saat kamu mulai membuat ku marah atau kesal. Tapi saat ini, jika kamu membuat ku  marah karena tak ada pesan mu, aku tak ingin itu, coklat atau ice cream bahkan kado yang tiba-tiba ada dikamar ku sebagai permintaan maaf mu,  aku hanya ingin kamu. kamu . tapi aku sadar apa yang aku inginkan tak selalu aku dapatkan. Termasuk jarak. Aku tak menginginkan seperti ini. Tapi aku tak kuasa

Aku mencoba mengikhlaskan ini semua. Aku tak mungkin egois dengan menahan mu untuk selalu berada disisi ku, aku juga mau yang terbaik untuk mu, masa depan mu yang mungkin juga akan menjadi masa depan kita.. aku hanya memohon, jangan buat aku khawatir, jangan buat ku cemas karena tak ada kabar dari mu, aku hanya bisa berharap kamu selalu baik, dari benda yang tak bergerak ini, tapi begitu sangat menggetarkan ku. Aku ingin terlelap dalam mimpi ku bersama mu, bukan terbangun karena tiba-tiba dada ku terasa sesak karena mengkhawatirkanmu, atau terlelap karena tangis kerinduan yang tak bisa aku bendung. Ya mungkin ini cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Aku dan kamu. 

Jaga hati mu, jaga diri mu, jaga percaya ku dan jaga cinta ku. Dan aku tak akan pernah lelah untuk membawa nama mu, agar Tuhan yang selalu ada dimana-mana menjaga dan menyertai mu. aku akan berusaha kuat untuk itu, untuk menahan rasa rindu ku. Aku bisa, pasti. Bisa untuk waktu ini  memeluk diri ku sendiri. Meski entah sampai kapan tapi aku selalu percaya, waktu itu akan mempertemukan kita, menyatukan kita dalam peluk mu dan peluk ku. Aku yakin aku bisa. Aku yakin kamu bisa. Karena aku perempuan kuat dan kamu adalah laki-laki hebat

#aku yakin kamu bisa menjalaninya, karena jarak selamanya hanya akan menjadi jarak. Terimakasih untuk proses mu, aku boleh meminjamnya untuk aku mengerti bahwa Tuhan begitu mencintai anak-anakNya dengan caraNya yang berbeda.

Selamat bertambah dewasa dalam segala hal, senantiasa jadi yang terbaik, aku tak pernah bisa melihat mata sembab mu, aku hanya ingin melihat senyum termanis mu.
Untuk mu perempuan sekaligus kakak terhebat ku,
MARGARETHA EVA KURNIA DEWI

Jumat, 06 September 2013

entahlah



Entah harus meminta Tuhan menyadarkan ku, atau menguatkan ku. Akupun tak tau. Dan aku juga tak tau harus berapa ribu kali lagi aku membawa namamu dalam percakapan ku. Andai aku bisa memilih, aku tak ingin memilih peran dan cerita ini. Namun bukankah sebagai manusia biasa aku hanya bisa menerima? Bukan memilih. Bukan aku yang memilih mu untuk masuk terlalu jauh, tapi aku hanya menerima mu yang sudah berda ditempat yang sejauh ini. Bukan aku pula yang memilih mu untuk menjadi yang pertama dalam cerita ku, melainkan aku yang menerima mu sebagai cerita pertama ku.tak ada yang salah. Baik aku. Atau kamu. Juga waktu.

Aku mencoba menikmati ini semua, waktu ini. Bersahabat dan berkawan dengan waktu. Berfikir positif atas apa yang aku lihat dan aku dengar. Meski terkadang pemikiran-pemikiran itu yang membuat ku sakit. Jadi benarkan?, bukan kamu yang membuat ku sakit bahkan yang menyakiti ku, melainkan aku sendiri. Karena harapan mullah yang membuat ku kembali bangkit saat aku terjatuh ketika semua itu hanya sebatas kata. Karena pengabaian mu membuat ku bertahan, kelak kamu akan menengok ku disini. Karena keacuhaan mu membuat ku berjuang bahwa pada waktunya nanti, kamu akan kembali. Dan karena terlalu banyak “kamu” lah yang membuat ku kuat.

Namun satu hal, bukan berarti kamu bisa mempermainkan ku atau bahkan menjadikan salah satu dari pelarian, juga salah satu tempat singgah untuk mu. Aku terima itu semua. Hanya satu yang perlu kamu ketahui tentang perempuan. “Ketika kamu berlaku baik pada perempuan, tanpa kamu minta dia kan membalas kebaikan mu lebih dari yang kamu berikan, namun ketika kamu berlaku tak baik, perempuan akan berbuat lebih tak baik dari apa yang kamu buat”. Bukan karma. Tapi apa yang kita tabur pasti itu juga yang kan kita tuai. Bukan hanya untuk mu tapi juga untuk semua hal.

Sebenarnya jika aku mau membuka mata dan telingga, aku harusnya sudah sadar sedari dulu. Jika ternyata pagi yang aku kirimkan sebagai penyemangat mu, hanya kamu anggap sebagai rutinitas pagi mu. Yang sering membuat mu bosan. Namun berbeda dengan ku. Pagi mu adalah semangat untuk ku. Yang tak pernah membuat ku bosan untuk mengawali aktifitas ku yang begitu menyesakan dengan sebuah senyuman. Tapi sudahlah, aku tak bisa memaksa mu seperti aku. Kita berbeda. Aku cukup mengerti. Mengerti bahwa ada rasa sakit saat aku mendengarkanya. Dan entah cukup apalagi yang aku rasakan. Aku tak ingin membuat ini semua menjadi alas an ku, untuk tertunduk dikamar, mennagis lalu mnegasihani diri ku. Tidak. Tapi ini menjadikan ku berdiri tegap, melihat kedepan dan memberikan senyuma terbaik ku.tak mudah. Tapi sampai saat ini aku berjuang, berusaha dan bertahan. Bukan untuk membuktikan pada mu tentang apalah itu, tapi sebgao bukti lu pada Tuhan bahwa aku sungguh-sungguh tak pernah bermain dalam ribuan frasa yang aku sampaikan padaNya.

Aku tak punya kuasa untuk membuat mu berubah, bahkan merubahmu. Yang bisa aku lakukan hanyalah membuat perubahan. Untuk ku. Entah tak lagi bodoh dalam setia ku, atau untuk apalagi aku juga tak tau. Tak ada gunaya bukan, selama ini aku berbicara, sedangkan ternyata tak pernah ada telinga untuk ku. Seperti itu. Aku mengerti apa yang menjadi pilihan mu juga kebebasan mu. Aku tak akan mengusik mu. Huft,, sudah berapa kali aku mnegucapkan kalimat itu? Atau harus berapakali lagi hingga aku benar-benar tak mengucapkanya lagi. Percayalah, itu semua bukan hanya omong kosong ku tapi aku juga sudah mencobanya. Dan tak mudah. Aku hanya tak ingin munafik karena itu hanya akan menambahkan sakit.. sekali lagi buakan aku yang menjadikan ku hebat, bukan pula aku yang menjadikan ku hebat. Melainkan kamu.