Kamis, 06 Juni 2013

menggegam..melepas..


Kenapa ada celah diantara jemari, Karena pada waktuNya nanti akan ada jemari lain yang melengkapai nya. Pada waktuNya nanti akan ada jemari yang menggegam jemari ini, dalam keadaan apapun, dimanapun, sampai kapanpun. Karena itu aku sangat menyukai genggaman, apalagi genggaman dari tangan mu. Genggaman yang membuat ku kuat, yang membuat ku merasa bahwa aku ternyata tak sendiri, yang membuat ku tersadar bahwa ternyata ada kamu. Ya hanya aku, buat ku.

Aku tau apa yang aku sentuh belum tentu bisa aku genggam, apa yang aku inginkan belum tentu bisa aku dapatkan. Yang terpenting aku sudah berusaha melakukan yang terbaik dengan tulus, berusaha bukan untuk mendapatkan, tapi berusaha untuk mempertahankan ini. Aku tak akan maju untuk menunjukan seberapa dalam, jauh, dan hebat rasa ku, namun aku juga tak akan mundur untuk menunjukan bahwa aku telah lelah, jenuh, dan sakit. Tapi sekali lagi aku akan tetap disini bertahan, untuk rasa yang Tuhan ijinkan datang kepada ku.

Aku yang dulu terbiasa menggegam tangan ini sendiri, tiba-tiba Tuhan mengirimkan tangan mu, yang tidak hanya menyentuh ku tapi juga menggegam tangan ku, menarik ku, mengandeng ku. Dan dengan tiba-tiba pula sekarang kamu melepaskan genggaman ini, entah karena apa, mungkin karena kamu malu ? karena aku yang terlalu biasa? Aku bukan yang istimewa? Aku bukan yang kamu inginkan?. Hanya bisa percaya, selalu percaya, dan tetap percaya untuk hal yang kamu tak mengerti dan aku tak tau. Hanya bisa menggegamnya sendiri, sendiri sekarang, karena tak ada kamu. Aku harus kembali pada masa itu, masa dimana aku bisa menggegam tangan ku sendiri, tapi tak semudah merekatkan kedua tangan ini seperti dulu lagi yang  belum terjamah tangan siapapun, namun sesulit melepaskan bayangan tangan mu dari tangan ku, sesulit aku menyadari bahwa kamu keberatan dengan tangan ku ini. Terlepas atau melepas, yang berarti bukan menggegam. Aku atau kamu yang berarti bukan kita. Ikhlas 

Kita, bukan menjadi doa ku. Tapi  kamu, yang dari dulu dan sampai saat ini ada dalam doa ku. Dulu sebelum aku mengenal nama mu, aku selalau berdoa untuk sosok seperti mu. sekarang kamu hadir  dengan sosok yang ada didalam doa ku. Mungkin karena itu, karena doa ku yang terwujudkan melalui kedatangan mu aku bertahan, bukan menginginkan. Bukan memaksa. Bukan, aku tau konsekuansi dari hubungan yang dipaksa kan, walaupun aku tak berpengalaman dalam berhubungan, tapi aku mendengar dan melihat banyak hal itu, kemudian aku belajar. Mungkin memang terpaksa membuat terbiasa, namun aku tak pernah menginginkan kamu terpaksa bahkan kamu mekmaksa diri  mu sendiri untuk sama merasakan apa yang aku rasa. Beralaskan kasihan atau tak tega dengan ku. Jangan, aku mohon, ingat aku hebat, aku tak perlu belas kasihan mu. Aku memilih kejujuran yang pahit, daripada kebohongan yang manis, karena pahit itu yang menguatkan ku.

Jika kamu meminta ku untuk melepaskanya aku akan melepaskanya,melepaskan genggaman ini bukan berarti aku juga akan melepaskan rasa ku. Kamu punya hak untuk memintanya, dan  akupun juga memiliki hak untuk mempertahankanya. Adil kan? Semoga. Meski aku tau ini sukar tapi aku tak meminta lebih, hanya biarkan aku disini menggegam tangan ku, menutup mata ku, menyebutkan nama mu, dalam doa ku bertumbuh dengan rasa ini. Biarkan aku seperti ini, menulis kan semua rasa yang tertahan, menuliskan semua rasa yang aku sadar aku sendiri yang menahanya. Hiraukan  apa yang kamu baca, jangan dengarkan semua rengekan-rengekan manja ku, tak perlu juga kamu menoleh saat aku berteriak rindu. Biarkan aku berlajar bersama setia, maka aku juga akan membiarkanmu belajar bersama mereka. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, aku tak akan menahan mu, tak akan aku mencegah mu. berjalanlah, aku tak akan mengganggumu. Jika kamu menghendakinya aku akan merealisasikanya, kamu tak menginginkan pagi aku juga tak akan lagi memberikan pagi, aku tersadar jika kamu telah bosan dengan tangan ini. Aku juga sangat sadar jika sekarang kamu memilih genggaman tangan lain.

Berat. sangat.. saat aku menyadari bahwa setiap sudut ini banyak kenangan yang tercipta karena pertemuan dengan hasil genggaman ini. Lagi-lagi gengaman ini, disetiap pertemuan kita, tangan ku yang tak pernah ingin lepas dari jerat tangan mu mewujudkan sebuah nama yaitu kenangan. Kenangan yang aku sendiri tak tau kapan bermulanya dan kenangan yang aku juga tak tau kapan akhirnya. Seperti lingkaran yang tak mengerti dari mana awalnya dan dimana ujungnya. Ya seperti itulah, seperti lingkaran itu, tak akan mudah bagi ku, karena kamu telah melingkar, disini.. dimana? Aku yakin kamu tau  tempatnya.

Tak ada yang salah, tak ada. Waktu, keadaan, kesempatan, perkenalan, berbincangan, rasa atau bahkan aku dan kamu, tak ada yang salah. Yah ini cerita yang harus dijalani, cerita yang harus diperankan, cerita antara dua tangan yang tak ingin melepaskan tapi juga tak dapat menggegam. Cerita yang Tuhan mau kita berdua memerankanya, cerita yang Tuhan minta kita berdua yang merasakanya, cerita yang Tuhan tak ingin kita menentukanya, cerita yang Tuhan tak mengijinkan kita mengetahui endingnya. Cerita. Cerita. Ya cerita, cerita yang akan menjadi warna dalam hidup kita, warna merah, hitam, putih, atau bahkan abu. Tak akan aku simpulkan warna ku dan warna mu juga semuanya sendiri, tapi akan aku serahkan semuanya melalui kegua tangan ku yang merapat, melalui sepuluh jari ku yang saling mengisi, melalui genggaman ku yang tak kan terlepas. 

#aku ikhlas jika kamu menggegam tangan lain dan melepaskan genggaman ku

perindu yang merindu

Hujan, terimakasih telah menemani ku bersama rasa  ku. Aku senang jika kau hadir, karena tak perlu aku berlari ke kamar lalu menutup pintu, menenggelam kan wajah ku dibawah buku dan memutar music karas, karena itu hanya akan menimbulkan kecurigaan. Namun jika kau hadir aku tinggal berlari menghampiri mu dan menyembunyikan tangis ku di bawah rintik mu. aku seneng jika kau hadir karena suara mu, aku bisa menyembunyikan getaran suara tangis ku tanpa aku harus menahanya, sesak. Aku senang jika kau hadir karena aku masih bisa memperlihatkan sukacita ku diatas kepedihanku, dengan menari bersamamu. Dan jika kau hadir aku merasa bahwa Tuhan juga menangis saat melihat ku kesakitan ketika rindu menghampiri ku.

Apa kamu bosan jika terus menjemputku dan mengantarkan ku?. Aku? Kamu bertanya pada ku? Jelas aku tak pernah bosan, aku menantikan mu. aku kesepian, hanya kamu, rembulan dan mentari yang mau bergantian menemani ku. Tak apa, aku sudah terbiasa, meski tak baik tapi aku baik-baik saja, walau banyak aktifitas yang harus aku kerjakan di luar rumah, kamu tak perlu mengantarkan atau menemani ku untuk kali ini saja. Tapi tolong sampaikan pada rembulan supaya dia memberikan cahayanya untuknya yang sedang sibuk beraktifitas. Hujan, apa menurut mu aku terlalau pengecut karena tak berani mengirimkan pesan semangat untuk nya? Ah aku takut mengganggu kesibukanya. Sibuk dengan apa, siapa, atau sibuk kenapa aku juga tak tau, dan ternyata benar tidak semua hal tentang nya akau tau. Aku juga tak ingin mencari tau, berharap dia datang mengetuk pintu rumah hanya untuk sekedar menceritakan atau bahkan berkeluhkesah dipundak ku. 

Iya, benar, terlalu muluk harapan ku jika dia datang, harusnya aku berharap dulu dia mengirim pesan untuk ku. Pesan yang tak hanya mentari yang menyaksikanya, tapi kamu, juga rembulan ikut menyaksikanya. Aku tidak mengharuskan, tidak sama sekali aku hanya khawatir. Kamu mendengarkan juga kan saat aku berbincang denganNya, meminta padaNya, agar Dia menjaganya supaya  selalu baik-baik saja. Bukankah aku, sebagai perindu memang harus terkadang merelakan kecintaan ku untuk kesenanganya, kesenangan apa?. terserah
Malam ini, dari atas sini melihat yang tak bisa dilihat dari dekat, dan merasa yang terkadang sulit dirasa saat dekat. Aku mananti mu hujan, aku dilanda rindu, aku tak ingin memperlihatkan kegundahan ku, aku ingin menari bersama mu. Kenapa kamu menghilang hujan, tak bisa aku menitipkan padamu. Tapi masih ada kamu rembulan yang menemani ku. Aku titip “rindu” ku untuknya, rindu yang sering datang dan membuat ku merasa sesak, rindu yang tak bisa aku cegah, rindu yang selalu memeluk ku.terlalu sering aku melihat layar pesan ini, berharap ada nama nya muncul, tapi ah.. hanya ada pesan-pesan dari nya yang tersimpan rapi di kotak ini. Menjadi obat disaat rindu itu menjamah ku. Bagaimana bisa aku mengungkapkan ridu ku jika tak ada komunikasi, jika setiap ucapan ku tak dibalasnya rembulan.

Aku merindukanya rembulan, merindukan senyumanya, suaranya, matanya, rengkuhanya, jemarinya, langkahnya. Ah kenapa harus ada rindu, karena tak ada waktu untuk bersua?, karena tak ada dua bibir yang saling berucap?, karena tak ada suara yang saling menggetarkan?, karena tak ada mata yang saling memandang?, tak ada hangat dekapan?, tak ada jemari-jemari yang saling menari? Dan tak ada kaki yang saling beriringan?. Aku bisa menciptakan rindu rembulan, tapi kenapa aku tak bisa menciptakan waktu. Bodoh. Aku bukan Tuhan!! 

Yah. ku kira kamu tak datang, ternayata  hujan menjemputku lagi. Aku sudah terlanjur menitipkan pada rembulan, tapi tak apa, seperti biasa aku titip pesan untuknya “aku masih menunggumu”. Sekarang ada hujan juga rembulan, aku tak kesepian ya.. mulut ku berucap seperti itu, tapi hati ku? Sepi.. tak ada kamu yang aku rindu. Terimakasih hujan untuk kesetiaan mu, yang mengantar dan menjemput ku. Terimakasih Tuhan untuk setia yang kau berikan kepada ku untuknya. Yah untuk nya, ah aku tak ingin meneruskan kalimat ku. Bukankah setia bukan berarti selalu ada dekat pasangan, tapi setia adalah selalu menutup hati untuk orang lain meski tak ada pasangan. Iya,meski ada A, B, C,D bahkan Z, aku terlampau setia, bukan untuk mereka yang merindukan ku, tapi dia yang aku rindukan.

Aku tak merindukan ice cream yang selalu mereka bawa, aku tak merindukan selamat pagi, siang, sore, bahkan malam yang mereka kirimkan, aku tak merindukan kepastian, kejelasan yang mereka tawarkan, aku tak merindukan kehadiran atau sosok yang mereka ciptakan. Aku merindukan dia, mentari. Merindukan dia yang walau hanya memberikan selamat pagi untuk mu, merindukan dia bersama celotehanya yang jarang aku dengarkan, merindukan tingkah konyolnya yang tak setiap hari aku melihatnya, merindukan mimic wajahnya yang selalu menggoda ku, aku merindukan gelak tawanya yang membuat ku lepas, merindukan tatapanya yang bisa membuat ku tersipu malu, merindukan suara degup jantungnya yang membuat ku merinding, merindukan genggaman tanganya yang selalu basah. Aku merindukanya. Aku merindukanya. Aku merindukanya mentari. Aku perindu yang merindukanya.

Aku memang sedang tidak baik. Makasih karena telah mengantarkan ku sampai rumah hujan. Terlalu kacau hari ini untuk ku, terlalu padat aktifitas ku hari ini, terlalau banyak orang-orang yang memebuat ku sakit hari ini, dan terlalu rindu aku pada nya. Mentari tak menitipkan sesuatu apapun darinya untuk ku hujan, mungkin itu aku menjadi uring-uringan hari ini, pesan ku pun tak dibalas olehnya, ah tak apa sudah terbiasa. Aku juga tak mengharapkan balasan apapun aku tulus melakukan itu semua, rembulan juga menyaksikanya, biarlah aku ikhlas. Aku ikhlas menjadi perindu..

Perindu yang merindu
Perindu yang tak ingin mengganggu aktifitasnya
Perindu yang menahan semua rasa, agar tak ada yang tersakiti
Perindu yang selalu membawa namanya dalam perbincangan nya dengan Nya
Perindu yang merindukan bahwa dia juga merindu

#perindu yang tak ingin merasakan rindu, tapi yang ingin merasakan pertemuan

Jumat, 24 Mei 2013

sadar diri



Sadar. Semacam bangun, tidak tidur?, seperti itukah? Atau seperti,.. mengerti? Berarti kalau tak mngerti sama halnya tak sadar?. Hmmt. Tak tau. Yang pasti aku sadar, aku siapa. Aku sadar tak ada satupun yang pantas dibanggakan dari ku. Aku sadar aku hanya perempuan biasa diantara yang istimewa. Aku juga sadar aku tak mungkin bisa menjadi yang istimewa, karna aku tak mau itu. Tak mau disamakan dengan yang istimewa.

 Untuk semua yang biasa aku hanya melakukan yang  terbaik yang bisa aku lakukan. Aku berusaha dalam ke-biasa-an ku untuk tetap memegang segala prinsip hidup ku. Kalau tak ingin dicubit jangan mencubit, kalau tak ingin dipukul ya jangan memukul. Ya seperti  itulah, aku terlalu sadar jika melakukan segala sesuatu, padahal sebenarnya terkadang  kita tak perlu memikirkan segalanya jika ingin melakukan sesuatu, salah satunya sayang. Sayang . Sayang itu tak perlu mikir, katanya. Tapi  aku selalu berfikir, aku tak pernah ingin jadi orang ketiga yang mengusik kebahagiaan hubungan orang lain, karna aku juga tak ingin nantinya ada orang ketiga yang mengusik kebahagiaan ku bersama orang lain. Meskipun aku sangat menyayanginya, tapi aku harus sadar bahwa aku harus memikirkan perasaan orang lain, berharap orang lain juga memikirkan ku jika ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan ku. Yah walaupun apa yang aku inginkan tak selalu aku bisa dapatkan. Aku juga sadar hal itu.

Aku sadar dulu aku tak berani untuk membuka hati, untuk mempersilahkan seseorang masuk dalam hati ku. Aku terlalu takut dan terlalu tenggelam dalam ketakutan ku, aku sadar aku bukan seorang pengecut tapi aku juga sadar bahwa aku juga bukan pemberani. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa ternyata pintu hati ku telah terbuka, entahlah,  aku juga tak tau bagaimana “kamu” yang sering aku sebut, bisa masuk dalam hati ku, aku sadar bukan aku yang memaksa mu masuk, tapi aku juga belum sadar apakah kamu juga menginginkan untuk memasuki hati ku. Terserah . Aku lelah memikirkan hal itu.

Aku masih sadar jika dari sini, aku selalu menyelipkan nama mu disaat perjumpaan ku dengan-Nya. Aku sadar aku menjadi konyol dengan setiap rasa yang aku rasakan, tiba-tiba cemburu, saat melihat pesan singkat mu kepada perempuan lain, tiba-tiba saja menangis, saat aku mendengar panggilan-panggilan “sayang” mu untuk perempuan-perempuan diluar sana, tiba-tiba aku tersenyum bahagia, saat kamu hanya sekedar mengirimkan “selamat pagi” disertai emot kiss, tiba-tiba aku khawatir, jika aku tak menemukan ocehan mu diberanda ku, tiba-tiba aku merasakan sesak yang sangat menyakitkan,  jika aku tau kamu sedang tidak baik. Dan bukan tiba-tiba aku sadar jika aku terlalu dalam menyimpan rasa ini.

Tapi aku juga masih sadar jika aku bukan siapa-siapa untuk mu, bukan yang istimewa untuk mu, bukan yang pantas mengisi hatimu, bukan yang mampu membuat mu tersenyum bahagia. Aku sadar, kamu masih melihat kebelakang, aku sadar kamu belum bisa focus melihat  aku , ah jangankan aku bayangan ku pun yang berada didepan mu belum tentu kamu lihat. Aku sadar masa lalu itu lebih dalam, dan sangat dalam jika kamu dan dia  masih saling mengagumi, jika kamu masih memberi dan dia masih menerima.  Aku sadar aku tak boleh marah, tak ada alasan yang  jelas yang bisa mengijinkan ku untuk marah, tak ada status yang pasti yang memperbolehkan ku untuk kecewa, karena sekali lagi aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa, bukan masa lalu mu dan juga belum tentu masa depan mu. Aku juga menyadari jika aku tak berharak cemburu, meski rasa itu sering menghinggapi hati dan pikiranku, aku tak berhak menuntut  tak hanya ”selamat pagi” yang kamu kirimkan, aku tak berhak juga meminta waktu mu lebih lama jika sedang bersama ku, tapi bolehkah aku bilang jika aku berhak …. Ah lupakan, maaf. Bukankah jika ada pemberi berarti juga ada yang diberi dan sebaliknya jika ada yang diberi juga berarti ada pemberi? . Bukan. Bukan maksud ku untuk memojokan mu, ah hiraukan kata-kata ku, aku hanya ingin kau sadar juga, Bahwa sampai kapanpun aku akan selalau menunggumu, bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu sedetik pun, bahwa aku akan selalau menjaga semua rasa ini jika kamu memintanya, aku ingin kau sadar bahwa apa yang sebernarya terjadi? Apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap ku? Atau aku hanya ingin kau menyadarkanku bahwa aku terlalu berlebihan dengan semua perasaan ku ini?, menyadarkan ku bahwa aku hanyalah seorang perempuan biasa yang tak pantas dengan mu yang sempurna? Menyadarkan ku bahwa aku kamu anggap sama halnya dengan perempuan-perempuan disana yang terkadang juga kamu panggil “sayang”?, menyadarkanku bahwa aku hnayalah pelampiasaan dari masa lalu mu?, dan menyadarkan ku bahwa kamu tak memiliki semua rasa cemburu, senang, sedih, sakit, khawatir, bahagia seperti yang aku rasa?

Apa kamu juga sadar, jika kamu yang membuat ku tak sadar bahwa aku terlalu berani untuk mendispensasi prinsip-prinsip hidup ku. Aku tak sadar jika aku terlalu berani menyerahkan kunci hati ku yang sekarang telah kamu pegang erat, yang berarti hanya kamu yang mampu mengendalikan seluruh hati ku, aku tak sadar jika aku terlalu berani untuk menyandarkan kepala ku dibahamu saat aku sudah tak mampu lagi merasakan beban ku seorang diri, aku tak sadar jika aku juga terlalu berani menumpahkan segala ketakutan ku, kecemasan ku, kekhawatiran ku, kelelahan ku, yang aku tenggelam kan didalam dada mu, aku juga tak sadar bahwa aku terlalu berani  untuk tak kuasa menahan  tangis ku yang selama ini aku tutupi dengan senyum ku di depan orang lain, akhirnya pecah dihadapan mu.

Aku tak sadar pula bahwa aku terlalu berani untuk menjadikan mu sebagai yang pertama dalam kisah ku yang sering manusia sebut dengan istilah ini dan itu. Aku tak sadar jika terlalau berani untuk pertama kalinya aku mengijinkan mu bermain di dalam keluarga ku, kamu tak sadar kan bahwa selama ini tak ada sesosok teman atau teman dekat  yang aku ijinkan untuk memperkenalkan namanya didepan keluarga ku, lagi-lagi kamu membuat ku tak sadar bahwa aku terlalau berani untuk pertama kalinya mengijinkan tangan ku dan tubuh ku memeluk mu erat saat aku merasa hanya ada kamu dan tak ada siapapun yang bisa untuk aku ajak berbagi, aku tak sadar ternyata  aku terlalu berani untuk memperbolehkan mu mendaratkan rasa yang aku tak paham namanya di kening ku, aku belum sadar juga bahwa aku terlalu berani untuk  mencium tangan mu sebagai tanda terimakasih dan doa ku menyertai mu, dan sadarkah kamu bahwa kamulah yang membuat ku tak sadar untuk ku begitu terlampau amat berani mengijinkan mu sebagai yang pertama kali menyentuh bibir ku. Aku pun tak ingin menyadarkan mu bahwa kamulah yang menjadi orang pertama dalam perjalanan ku bertumbuh dalam rasa. Dan aku tak sadar jika semua sudah seperti ini, tanpa aku bisa mengendalikanya, tanpa aku bisa memintanya, tanpa aku bisa memohonya, tanpa aku bisa menghentikan rasa ku yang begitu jauh, yang begitu dalam, yang begitu hebat, aku tak ingin sadar, aku tak ingin bangun, samapai akhirnya nanti kamu menyadarkan ku dengan bisikan lembut “aku sadar bahwa aku juga menyayangi mu”.

#Semoga cukup sampai dititik pertama ku ini, kamu tak menyadarkan ku, selanjutnya sadarkan aku bahwa memang  kamu yang menjadi pertama dan terakhir ku, meskipun aku sadar aku yang biasa tak pantas untuk mu yang sempurna.

Selasa, 30 April 2013

menguap


Seperti ketika memasak air, lalu kita pergi dan kita tidak menjaganya, sampai akhirnya air mendidih hingga terlalu mendidih dan dibiarkan begitu saja yang terjadi ketika kita kembali adalah kita tidak akan mendapatkan air matang yang diinginkan, yah..jangan kan air yang matang yang ada hanyalah air yang telah menjadi uap. Yang tidak bisa kita nikmatai namun hanya bisa kita biarkan begitu saja hilang. Yang ternikmati adalah rasa kecewa dan penyesalan karena tidak menjaganya.  
Penjelasan yang kamu berikan tidak bisa membuat ku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang sering kali aku tanyakan pada diri ku sendiri. Malah lebih dari itu. Aku semakin betanya-tanya pada diri ku sendiri. Aku tak bisa mengerti akan semua penjelasaan itu, dan aku juga tak mengerti kenapa aku tak bisa mengutarakan ketidak mengertian ku itu secara langsung. Seperti  terhipnotis atau apalah semacam itu, mulut ku selalau terkunci ketika aku berhadapan dengan mu, ketika aku mendengarkan semua penjelasan mu, anugrah semacam apa yang Tuhan  berikan pada mu sehingga membuat ku menjadi semacam ini?, ah untuk kesekian kalinya aku bertanya pada diri ku sendiri.
Semoga kamu tidak menyadari itu, apalagi menyalahgunakan itu, ya menyalahgunkan sebagi senjata mu untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan ku yang mungkin menurut mu lucu dan tidak bisa kamu jawab. Semoga. Semoga kamu juga tidak menggunakan senjata mu itu untuk menhadapi para wanita-wanita diluar sana yang terpikat oleh apa itu yang aku tidak tau. Mungkin karisma. Kata orang.
Aku sepaham dengan prinsip mu, tapi aku tak paham dengan apa yang kita jalani. Frontal. Tapi memang seperti itu kan  yang terjadi?. Apa aku salah? Lalu yang benar seperti apa? Beri tahu aku? Aku kurang jelas, aku kurang paham, aku kurang mengerti. Aku sering tertawa pilu jika mendengar kalimat dari salah seorang seniman idola ku Sudjiwotedjo:  “wanita  memang menyukai ice crem tapi wanita lebih suka kepastian”. Harusnya semua pria akan menyadari  jika mendengar ucapan itu, ya tapi untuk pria yang memiliki perasaan saja yang akan tertusuk dengan ucapan itu.
Sungguh aku sama sekali tak menyudutkan mu, atau menyalahkan mu seperti orang-orang. Aku hanya takut jika suatu ketika aku tak mampu lagi untuk bertahan bersama rasa ini. Suatu ketika. Aku merasa lelah karna berjalan ditempat seorang diri. Apa kamu juga merasakan ketakutan yang sama? Apa kamu juga bingung jika tiba-tiba aku melakukan hal aneh? Apa kamu juga khawatir jika aku tak memberi pesan “selamat pagi” sebagai  kabar untuk mu? apa kamu juga sedih jika aku merasa tertekan? Apa kamu juga menangis jika kamu tak tau aku kenapa? Apa kamu juga sakit saat aku disakiti. Apa kamu merasakan yang semuanya yang  aku rasakan.
Bagaimana jika suatu saat aku menghilang bersama rasa ini, apa kau akan mencari ku? Apa kau akan menunggu ku? jika aku tak bisa lagi mengucapkan kata sayang? Apa kamu akan bertahan supaya aku kembali lagi mengucapkan kata sayang pada mu? lalu jika kamu bertahan, tapi aku tak kembali apa kamu masih akan bertahan? Ah aku tak ingin menjawabnya. Aku takut jika semua rasa ini menuap begitu saja hilang tanpa sisa karena aku tak kuat lagi untuk menjaganya, beri aku penjelasaan dari mu. penjelasan  yang dapat aku terima dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan  ku  dan dapat menjadikan alsan untuk aku tetap kuat menjaga rasa ini.

#jika mau  ikutlah menjaga rasa ini. Supaya jangan hilang menguap

Jumat, 19 April 2013

aku disini


  Berat . Satu kata yang begitu sangat terasa di hati ini. Saat ini. Hari ini. Berat, untuk ku dapat mengerti kisah ini, berat untuk ku dapat memahami semua yang terjadi, berat untuk ku menjalani semua tanpa mu. Kamu ,sosok yang selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi ku, sosok yang selalu menerangi hari ku yang gelap, sosok yang mampu membuat ku tersenyum walau hari ku begitu menyedihkan, sosok yang aku tak tau kenapa aku begitu sangat dalam menyimpan rasa ini terhadap mu.

  Sulit untuk ku menjelaskan tentang mu jika hanya melalui konsonan kata, kalimat, paragraph bahkan dalam bentuk buku sekalipun. Seberapa tebal buku, masih kurang bagi ku untuk menjelaskan seberapa berartinya kehadiran mu untuk ku. Aku tak tau, aku tak mengerti kenapa sosok mu selalu ada dipikiran, hati ku.

  Kamu buat ku belajar tentang waktu, proses, menunggu, setia, sabar dan segala embel-embelnya. Kamu buat ku belajar tantang ketulusan dan keikhlasan, tentang cinta dan kepedihan, komitmen dan kepercayaan. Lebih dari itu, lebih, sampai ku tak bisa mengungkapkanya. Yang ada sekarang hanya sosok mu dan aku yang terbungkam kerena membayangkanmu. Membayangkan . Membayangkan andai sosok mu hadir saat ini, andai kamu ikut merasakan rasa sesak ini, andai kamu merasakan getaran ini, dan andai kamu melihat air mata kerinduan ini.

  Pasti kamu pun bertanya-tanya kenapa aku segila ini, kalau kamu bertanya pada ku, aku jamin kamu tak akan mendapatkan jawabanya. Karena bagi ku tak ada jawaban ataupun alasan untuk dapat menjelaskan kenapa aku segila ini. Karena sungguh aku tak mengerti, aku tak tau. Sungguh . Dan apakah semua pertanyaan perlu jawaban? Kalau ya, bisa kah aku  mendengar jawaban dari mu, apakah kau merasakan rasa segila ini?, apakah arti kehadiran ku untuk mu? Apakah….? Apakah…? Apakah…? Ahh lihat, aku bahkan tak mampu untuk berbicara pada mu. Kamu terlalu indah, kamu terlalu hebat, kamu terlalu sempurna untuk ku, pantas kah aku? Layak kah aku?.

  Mungkin aku tak merasakan rasa sakit yang sekarang kau rasakan, tapi lebih dari sakit mu, aku juga sakit. Sesak. Sedih . Saat melihat mu seperti ini, saat aku tak bisa berbuat banyak untuk mu, saat aku tak bisa meringankan beban mu, dan hanya aku, mata dan tangan ku yang ada untuk mu.. Disetiap saat, disudut ini, dipercakapan ku denganNya, nama mu selalu ku bawa, aku tak henti-hentinya meminta untuk yang terbaik buat mu, tak henti-hentinya meminta Tuhan selalu menjaga mu saat kamu tak berada didekat ku, tak henti-hentinya menitipkan semangat untuk mu supaya kau mampu menjalani hari yang sangat padat, berat dengan segala rutinitas mu.

  Aku ingin sosok mu ada saat aku membuka mata, dan saat aku menutup mata, tapi mungkin itu akan terjadi kelak. Ya, jika Tuhan mengijinkan kita untuk menjadi sepasang selamanya. Namun yang ada sekarang adalah nama mu. Nama dimana setiap aku membuka mata selalu ku sebutkan, dalam perbincangan ku denganNya,

  “aku titip dia Tuhan, untuk aktifitasnya hari ini, titip dia karena Tuhan yg selalu ada didekatnya, aku tak bisa  menjaganya 24 jam, jaga i dia Tuhan, ingatkan kan dia supaya makanya tepat waktu, ingatkan dia untuk mengurangi kebiasaanya yang kurang baik, ingatkan dia supaya menjaga kesehatanya, dan ingatkan dia supaya dia g berbuat nakal, ingatkan dia untuk sebentar saja istirahat disela-sela kesibukanya, dan ingatkan dia akan aku sedikit saja Tuhan, sedikit. Buat harinya menjadi berkat untuk dia dan juga orang-orang disekitarnya,..”

  Nama mu juga selalu ada saat aku hendak menutup mata, saat aku menceritakan perjalanan sehari ku kepadaNya.

  “aku mengucapsyukur Tuhan karena Tuhan masih kasih aku kesempatan untuk membawa namaya dalam percakapan ini, kalau saat ini dia masih terbangun dengan segala tanggungjawab pekerjaanya, lancarkanlah supaya dia segera dapat beristirahat, kalau dia masih sibuk dengan kegiatanya, ingatkan Tuhan supaya dia lekas beristirahat, tidak lagi begadang. Jaga i tidurnya supaya dia dapat beristirahat dengan baik, aku tau pasti seharian ini dia sangat lelah dengan semua tugas-tugasnya, jaga i dia, istirahatnya agar esok hari dia dapat beraktifitas kembali, dan dapat Tuhan pakai dalam memuliakan namaMu..”

  Nama mu yang selalu aku banggakan, karena mampu membuat ku seperti ini. Seperti sekarang dimana aku bisa membuka hati yang telah lama terkunci ini, dan kamu yang mampu membukanya. hatinya yang dulunya aku tak pernah ingin membuka hingga akhirnya Tuhan mengijinkan mu untuk datang, dan ternyata kamu yang mampu. Kamu yang pertama dalam aku mengerti akan sebuah rasa, yang sebelumnya aku tak mau mengerti, tak ingin mengerti, dan takut untuk aku mengerti.

  Dari sini, disudut ini, aku berdoa supaya kamu baik-baik saja . Jujur aku sangat khawatir. Tak ada kamu dipagi ku dan kamu dimalam ku, aku tak biasa, dan aku tak mau. Apa kamu sudah bosan? Apa benar kamu ingin meninggalkan ku? Sendiri? Hanya ditemani rasa ini? Apa aku terlalu menganggumu? Atau aku sangat merepotkan mu? jawablah, aku takut. Aku takut, sangat. Aku hanya tak mau lebih membebani mu, tak mau aku menyita semua pikiran mu, walaupun aku ingin menyampaikan sesuatu kepada mu. Tapi aku mengerti, dan berusaha mengerti. Aku tak akan tega membuat mu pusing dengan keberadaan ku bersama pikiran, pertanyaan, dan rasa ku.

  Jika kamu merasa aku menganggumu aku tak akan lagi menganggumu. Aku akan disini dititik ini disudut ini dipersimpangan ini, berdiam, menutup mata dan melipat tangan menyebutkan nama mu, menunggumu, lagi. Menunggu sampai kau memanggil ku, berjalan kearah ku dan meminta bahu ku untuk mu bersandar. Aku disini


#aku disini untuk mu, berdoa untuk mu

Kamis, 11 April 2013

terlalu banyak "kamu"




Terkadang apa yang ada dihati dan yang ada di bibir itu berbeda begitu juga kenyataa,  bisa berbeda. Apakah aku harus percaya dengan rasa dihati ku? Atau kenyataan yang berkata lain? Dan bibir yang berucap tak sama?. Bibir bisa bilang sayang untuk ku, tapi hati mungkin bisa bilang sayang juga, tapi untuknya. Aku pun juga tak tau apa kata sayang yang selam ini terucap dari bibir mu juga terucap dari hati mu. Percaya . hanya bisa berusaha untuk percaya. Selamanya.

Bukan karena aku wanita yang terlalu cemburu pada mu. Bukan . aku sadar betul aku bukan siapa-siapa, tapi lebih karena aku terlalu sayang pada mu. aku hanya takut jika ternyata aku berjalan sendiri(an) dengan perasaan ini, sejauh..sehebat..dan sedalam ini. Tak masalah tak ada kepastian untuk ku, sudah terlalu biasa walaupun perih, aku bisa bersabar berteman dengan waktu, aku bisa setia bersahabat dengan waktu. Aku hanya minta sebuah kejelasan. Kejelasaan tentang siapa “kamu”?. jujur aku begitu tak paham dengan sebutan itu. “Kamu” siapa? “Kamu” yang seperti apa? “Kamu” yang bagaimana? “Kamu” yang dimana? Jelas kan pada ku.

Mungkin “kamu” dimasa lalu mu?, atau mungkin “kamu” dimasa depan mu?, dan bahkan mungkin “kamu” dimasa sekarang?. Aku tak tau, aku bingung, aku tak mengerti, aku tak bisa terus-terusan menjawab ini semua seorang diri, aku mau kejelasan, aku perlu kejelasan, aku butuh kejelasan, Ah..kejelasan? aku sadar bahwa aku tak punya hak untuk meminta mu menjelaskan “kamu” ini kepada ku. Aku tak berhak. Namun…

Aku takut jika “kamu” yang membuat mu bahagia itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang bisa membuat mu tertawa lepas itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang didalam doa mu itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang ada dipikiran mu itu bukan aku.
Aku takut jika “kamu” yang ada dihati mu itu bukan aku.
Dan aku takut jika “kamu” yang selama ini terucap dibibir mu itu ternyata bukan aku. 

Aku takut bukan karena aku tak akan bisa memiliki mu. Bukan. Tapi karena aku takut. Mungkin kamu tak merasakan rasa takut ini, atau bahkan kamu tak pernah mengenal rasa takut ini. Mungkin. Mungkin jika kamu tak memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasa. Rasa yang aku pun tak tau kapan datangnya, yang aku tak tau kenapa mendatangi ku, dan yang aku tak tau namanya. Entahlah.

#semoga “kamu” itu aku