Rabu, 19 Juni 2013

peran.cerita



Dunia ini panggung sandiwara. Sandiwara dalam cerita, dan cerita yang didalamnya terdapat peran, yang kita sebagai pemainya. Dan Tuhan sebagai Penonton, Penulis juga Sutradaranya. Sutradara yang menentukan peran kita. Penulis  yang menentukan endingnya. Dan Penonton yang melihat bagaimana kita, menerima dan menjalankan peran yang diberikanNya dengan baik. Banyak peran yang ada, tidak hanya yang baik dan juga yang jahat. Tapi banyak.

Aku. Juga memerankan peran ku. Peran yang harus berbeda, dan yang harus aku terima. Buakankah tugas kita sebagai pemeran hanyalah menerima peran yang diberikan kepada kita?. Dan bukankah peran yang kita dapat sudah ditentukan denagn baik sesuai kemampuan kita oleh Tuhan?. Dan aku tidak mengerti apakah kita diberi pilihan untuk menganti peran kita?. Jika ya, mungkin… mungkin aku ingin menganti peran ku. Peran yang aku peran kan supaya sama dengan yang lain. Bukan yang berbeda. Aku terlalu mengerti jika memang aku harus mengucap syukur untuk semua yang terjadi untuk ku. Untuk semua yang datang dan pergi dari proses ku. Untuk semua yang menyakitkan dan membahagiakan di dalam rasa ku. Untuk semua yang hitam dan putih di warna hidup ku. Dan untuk semua yang baik ataupun buruk menurut ku. Aku terlalu mengerti jika memang ini yang harus aku peran kan, dan aku sangat mengerti jika memang aku berbeda.

Disini, disudut dan titik ini, aku mencoba untuk berperan sebagai yang egois. Aku memilihnya. Tapi mungkin bukan seperti ini ceritanya. Aku hanya mencoba memebuat cerita sendiri, yang ingin menguntungkan aku. Aku selalu mengalah selama ini, mengalah pada mu, mengalah pada nya, mengalah pada mereka, aku ingin mencoba, apa aku bisa beruntung, beruntung seperti mu, seperti nya, seperti mereka. Ya mencoba. Dan aku letih. Letih karena terlalu sering mencoba. Bukan seperti ini, menutup mata, menutup telinga, menutup mulut, menutup tangan juga kaki, apalagi hati. Bukan. Bukan seperti itu, aku menyerah, aku mengangkat tangan untuk peran ini. Aku tak mampu, aku tak sangup. Ini bukan peran ku

Apa aku salah? Jika aku ingin peran yang sama seperti mu?. Jika aku menginginkan jalan yang sama seperti nya?. Jika aku berharap mendapatkan sesuatu yang sama seperti mereka?. Aku salah, jika aku ternyata lelah?, jika aku ternyata buruk?, dan jika aku ternyata tak sekuat yang orang-orang lihat?. Mungkin memang aku salah. Sangat salah. Yang benar adalah aku harus memerankan peran seperti ini, aku harus sadar bahwa semua yang aku inginkan belum tentu yang terbaik untuk ku, dan aku harus berhenti mengharapkan apa yang orang lain dapatkan, ya, karena memang aku tidak membutuhkanya. Munafik

Aku manusia. Sama seperti mu, seperti nya, seperti mereka. Aku bukan malaikat! Dewa! bahkan Tuhan!. Aku juga ingin ada telingga yang mendengarkan ku, bukan gundah tapi tawa ku. Aku ingin ada mata yang melihat ku, bukan saaat aku tergolek lemah tapi saat aku kuat menggerakan seluruh tubuh ku. Aku juga menginginkan mulut, bukan untuk mengatakan “aku selalu ada untuk mu” tapi yang mengatakan “kamu tidak sendiri”. Aku inginkan tangan, bukan yang menarik ku saat aku terjatuh tapi yang mengngegam tangan ku saat aku akan terjatuh. Aku juga ingin kaki, bukan yang selalu melangkah bersama ku tapi yang berlalri-lari kecil bersama ku menari dibawah hujan. Dan aku sangat mengingikan ada hati, bukan yang sedih saat saat aku sedih tapi yang bahagia saat aku sedang bahagia. Dan untuk hal itu pun aku sadar bahwa aku belum tentu mendapatkanya

Tapi itu bukan peran ku. Tapi peran mu. Itu bukan bagian ku. Tapi bagian nya. Itu bukan cerita ku. Tapi cerita meraka. Aku berbeda. Aku tak sama dengan mu, dengan nya, juga dengan mereka. Aku tak bisa menutup telingga, karena aku harus mendengarkan langkah kaki mu yang berlari gundah menghampiri ku. Aku harus membuaka mata, untuk melihat bahwa ada yang sedang kelelahan menjalani proses hidupnya. Aku juga tak ingin menutup mulut ku, karena ada mereka yang membutuhkan “aku selalu ada untuk mu” dari mulut ku. Aku selalu ingin mengulurkan tangan ku, untuk menarik tubuh mu yang terjatuh didepan ku. Aku juga tak bisa menutup kaki ku rapat-rapat, karena aku harus berlari, menghampir, kemudian melangkah bersama mu. Dan aku harus bisa membuka hati, agar aku bisa ikut merasakan rasa sesak sedih yang sedang berkecambuk di hati mu, di hati nya, juga hati mereka. Ini peran yang Tuhan mau aku dengan apik memerankanya. Ikhlas

Lelah. Tapi Tuhan tak membiarkan aku keletihan memerankan peran ku. Ada telinggaNya yang mau mendengarkan kegundahan ku, saat aku merasa bahwa peran ini tak adil. Ada mataNya yang tak pernah jauh-jauh memandang ku, sangat dekat, saat aku berada didepanNya tergolek sangat lemah. Selalu ada mulutNya yang tak pernah berhenti mengatakan “Aku selalu ada disini, dihati mu, dipikiran mu”, ketika aku mulai merasa  sendirian. Selalu juga ada tanganNya yang mengulurkan, menarik, mendekap saat aku tersungkur, terjatuh, terperosok ditempat yang sangat curam. Juga ada kakinya yang tidak hanya berjalan bersama ku tapi menggendong ku, ketika aku mulai lelah menjalani peran cerita ku. Dan selalu ada hatiNya, yang memberi rasa nyaman, tenang, aman, jika tiba-tiba hati ku merasa sakit, sesak, sedih karena harus menyadari banyak tugas dan tangunggung jawab yang harus aku kerjakan, sendiri.

Aku, kamu, dia, dan mereka. Peran kita berbeda. Cerita kita tak sama. Tapi sang Sutradara telah memilih kamu memerankan peran mu. Sang Penulis sudah menentukan ending yang indah untuk peran yang dia harus jalani. Juga sang Penonton, telah menyiapkan beribu pujian untuk mereka yang memerankan perannya dengan apik, dan siap memberikan applause yang luar biasa untuk ending yang mereka jalan kan dengan sangat baik. Tak terlewatkan juga, untuk ku yang berbeda, yang memang sang Sutradara, sang Penulis, sang Penonton menunjuk ku untuk tak sama seperti mu, seperti nya, seperti mereka. Berbeda

#terimakasih Sutradara, Penulis, dan Penonton

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar